Kisah Anak-anak saat Jadi Relawan Banjir

Relawan Banjir

Kisah Anak-anak saat Jadi Relawan Banjir

- detikNews
Selasa, 28 Jan 2014 16:59 WIB
Kisah Anak-anak saat Jadi Relawan Banjir
Banjir di jalan Abdullah Syafei, Jakarta Timur. (Foto-detikcom)
Jakarta - Hujan kembali turun di Jalan Inspeksi Saluran Jati Luhur RT 07, RW 01 Kelurahan Cipinang Melayu, Kali Malang Jakata Timur, Kamis (23/1) sekitar pukul 00:31 dini hari lalu. Belasan anak-anak usia belasan tahun, dan beberapa orang dewasa, tampak sibuk memasak dan membungkus nasi.

Mereka tampak semangat dan sesekali sambil melontarkan candaan menghangatkan cuaca yang kian dingin. Nasi bungkus ini akan dibagikan selepas Subuh untuk sarapan pagi para korban banjir di beberapa titik.

Selang sepuluh menit kemudian, sekitar tujuh orang tim lapangan tiba. Setelah melepas jas hujan masing-masing, mereka bergabung dengan yang lainnya sehingga menambah kehangatan suasana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relawan berusia belasan tahun itu merupakan siswa yang menimba ilmu di Sanggar Anak Akar. Pada pagi harinya mereka tetap masuk kelas dan belajar. Namun waktu belajar di kelas diundur hingga beberapa jam.

Tidak ada bendera partai, calon legislatif, ataupun bendera organisasi di tempat itu. Hanya ada satu papan nama bertuliskan 'Sanggar Anak Akar' di bagian dalam sanggar, dan pelampung (body jacket) yang digunakan untuk evakuasi korban.

Mereka bergerak atas nama kemanusiaan, membantu korban banjir yang melanda Jakarta. Doge Abdurrahman (30 tahun) pengajar sekaligus pengurus Sanggar menjelaskan, relawan membantu warga yang terkena bencana banjir di tiga wilayah, yakni Kebon Baru, kecamatan Tebet, Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu dan Cipinang Bali, Kecamatan Makasar.

Jumlah pengungsi di tiga tempat tersebut mencapai 3.237 orang. Para relawan dari Sanggar ini mendirikan dapur umum untuk makan pagi,siang, dan malam bagi korban banjir. Mereka juga menggalang dukungan; relawan, dan kebutuhan konsumsi, obat-obatan ringan, pakaian, peralatan mandi, peralatan kebersihan.

Sumbangan yang terkumpul kemudian dibagikan ke korban banjir. Bantuan juga diberikan selepas banjir surut, yakni ikut gotong royong kerja bhakti di lokasi, dan pelayanan kesehatan.

"Saat ini sekitar 30-an terdiri dari pengurus dan anak-anak Sanggar Akar, dan ada beberapa volunteer dari luar. Murni gerakan masyarakat peduli korban banjir," kata Doge kepada detikcom di Sanggar Anak Akar, Kamis dini hari pekan lalu.

Doge mengatakan, tidak semua korban banjir dipasok makanan dalam bentuk nasi bungkus. Di lokasi - lokasi banjir yang warganya telah bisa memasak, relawan Sanggar Anak Akar hanya menyalurkan bahan baku untuk diolah di lokasi. "Untuk titik banjir yang bisa memasak, kita hanya suplai bahan bakunya" katanya.

(/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads