Minggu, 26 Januari 2014
Pukul 19.00 WIB
Berdasarkan keterangan saksi Fersi, Epi kedatangan tamu laki-laki. Saat menerima tamu, Epi menyuruh istrinya, Ai Cucun, untuk keluar rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senin 27 Januari 2013
Pukul 03.30 WIB
Warga sekitar tiba-tiba dikejutkan suara teriakan Ai Cucun dari dalam rumahnya di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Ai Cucun berteriak mengucapkan kata-kata 'Astagfirullah dan Allahu Akbar' berulang kali.
Belakangan diketahui Ai Cucun kaget melihat suaminya sedang menusuk-nusuk buah hati mereka, Ihsan. Kali ini giliran Ai Cucun yang diserang Epi. Ai Cucun dianiaya dengan cara menusuknya menggunakan pisau di bagian perut dan kepala sebanyak 10 kali.
Kegaduhan ini kemudian didengar oleh Cecep, adik kandung Ai yang juga tinggal di rumah tersebut. Cecep kemudian menghampiri suara kegaduhan dan mendapati Ihsan dan Ai sudah berlumuran darah.
Tersangka yang melihat Cecep itu, langsung mengejar Cecep. Cecep pun melarikan diri ke lantai 2 rumah tersebut. Ia lalu menyelamatkan diri lewat genteng rumah tersebut yang kemudian diketahui warga.
Cecep pun menjelaskan perstiwa itu kepada warga. Warga kemudian mengepung tersangka sehingga tersangka berhasil diamankan.
Pukul 05.00 WIB
Tersangka dibawa oleh anggota Polsek Cikarang ke Mapolsek Cikarang.
Dari hasil olah TKP, polisi menemukan ceceran darah korban di karpet dan bantal berwarna ungu. Polisi juga menemukan potongan hati korban Ihsan seukuran panjang 10 cm dan lebar 2 Cm di kursi ruang tamu.
Ihsan tewas seketika dengan kondisi luka tusuk di sekujur tubuhnya. Usus bocah malang itu terburai akibat tusukan tersebut. Sementara Ai Cucun mengalami luka tusuk di kepala, leher dan perut.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, pembunuhan sadis itu dilakukan tersangka karena stres dengan beban pekerjaan. Tersangka juga terhimpit keadaan ekonomi sehingga terpaksa membunuh korban karena bingung menghidupi anak-istrinya.
"Hasil pemeriksaan sementara motif pelaku membunuh anak serta melukai istrinya adalah karena tekanan pekerjaan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/1/2014).
Tidak hanya itu, tersangka juga mengaku terbebani dengan kondisi perekonomiannya. Ia harus membayar cicilan rumahnya sebesar Rp 800 ribu.
(mei/mok)











































