Perempuan yang juga atlet taekwondo ini ingat betul nasib salah satu seniornya di kota Medan, Sumatera Utara. Sang senior tersebut adalah atlet peraih emas di Sea Games untuk cabang olahraga taekwondo.
Puja-puji saat sang atlet naik panggung menerima medali emas seperti sirna setelah Sea Games selesai. Menurut Camel, hingga kini atlet senior itu tidak memiliki kehidupan yang layak. Rumah belum punya, kendaraan pun hanya berupa sepeda motor vespa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga pernah merasakan pengalaman pahit bersama teman-teman atlet seangkatan. Saat itu sepuluh tahun yang lalu Camel menjadi atlet yang maju di Pekan Olahraga Nasional XVI di Palembang.
Camel bersama seorang rekannya mendapatkan medali perunggu serta emas. Namun, lima teman atlet lainnya gagal menyumbang medali. Pengurus pun memberikan perbedaan mencolok bagi yang gagal. Mereka harus menempuh perjalanan pulang ke Medan dengan bus. Tapi, Camel dan rekannya yang berhasil difasilitasi pulang dengan naik pesawat.
โAku ingat itu sudah kayak ayam. Latihan capek sampai kaki biru dan memar. Tapi, pengurus enggak hargain teman-teman yang gagal. Mereka shock banget,โ sebut perempuan kelahiran Medan, 23 Oktober 1985 ini.
Pengalaman pahit dan keraguan masa depan menjadi atlet rupanya mendorong dia untuk maju menjadi caleg Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Perempuan bernama asli Camelia Panduwinata Lubis ini pun bercita-cita masuk ke Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat.
Di komisi yang membidangi pendidikan dan olahraga itu dia berjanji akan memperjuangan kesejahteraan mantan atlet. Ia yakin tidak hanya atlet taekwondo yang kurang diperhatikan, tapi juga olahraga lain seperti tinju, sepak takraw, hingga sepak bola.
Camel Petir sejak 2005, tidak aktif lagi menjadi atlet taekwondo. Dia memilih menekuni profesi baru, yakni dunia hiburan sebagai penyanyi. Tahun ini dia mencari peruntungan di dunia politik; menjadi caleg DPR RI daerah pemilihan Jakarta dan luar negeri.
Langkah Camel Petir menuju Senayan masih panjang. Label artis dan kepopuleran yang dia sandang belum tentu membuatnya melenggang. Sebuah grafik yang dipaparkan oleh Pol-Tracking di Hotel Ibis Tamarin, KH Wahid Hasyim Jakarta Pusat Ahad kemarin menunjukkan, elektabilitas caleg artis hanya 16 persen.
Survei juga menunjukkan bahwa caleg yang memiliki latar belakang politis atau pengurus partai lebih mampu meraup suara 50 persen. Sementara, caleg baru dan muda diminati oleh pemilih sebesar 48 persen.
(hat/erd)











































