Masyarakat Tionghoa mengharapkan pemimpin yang dapat menjadi payung masyarakat multikultural. Calon dengan etnis sama bukan berarti akan langsung dipilih oleh warga Tionghoa.
Hal tersebut diungkapkan dalam Seminar "Memilih Presiden yang Peduli terhadap Pluralisme" yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Tionghoa (FORMAT) dan Alumni Fisip UI'78. Seminar ini berlangsung di Gedung Candra Naya, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Sabtu (25/1/2014).
"Masyarakat Tionghoa tidak homogen, orang Tionghoa bukan berarti langsung memilih Tionghoa. Yang menyatukan kita bukan karena agama atau etnis yang sama tapi karena memiliki cita-cita yang sama," kata mantan anggota DPR dari Fraksi PAN Alvin Lie yang menjadi pembicara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Forum Masyarakat Tionghoa Idris Sutarji mengajak semua warga Tionghoa untuk menggunakan hak pilihnya.
"Satu suara sangat berarti, kami mencari pemimpin yang bisa menjadi payung masyarakat multikultur," kata Idris dalam Bahasa Mandarin yang kemudian diterjemahkan.
Seminar ini juga dihadiri oleh budayawan Jaya Suprana, caleg PDI-P Charles Honoris, pakar social media dari Political Wave Sonny Subrata, dan wartawan senior Budiarto Shambazy.
(van/van)











































