Pembunuh Munir Diduga Intelijen Tidak Aktif
Selasa, 30 Nov 2004 19:48 WIB
Jakarta - Pengamat intelijen Letkol (purn) Djuanda mencurigai pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir dilakukan mantan anggota intelijen. "Kematian Munir harus diselidiki dulu siapa pelaku utamanya. Ini jangan-jangan dia anggota intelijen juga. Tapi menurut saya, orang intelijen ini yang yang sudah tidak aktif lagi," kata Djuanda kepada wartawan di sela-sela seminar di Grand Melia, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (30/11/2004). Deputy VII bidang Teknologi BIN Bijah Soebijanto tidak menampik kemungkinan anggota intelijen terlibat pembunuhan Munir. Tapi ditegaskan, intelijen tidak mempunyai kepentingan atas kematian Munir."Ya mungkin ada saja. Tapi saya tak tahu karena kepentingannya juga gak ada. Nggak ada kepentingannya bagi intelijen. Mungkin secara pribadi," katanya."Institusi intelijen tak ada kepentingannya apa-apa. Intelijen sekarang itu tidak lagi mengurusi masalah dinamika politik begitu juga dengan institusi TNI tak ada kepentingan soal ini. Tapi kalau bicara soal keterlibatan pribadi itu susah," tambah Bijah. Hingga kini intelijen, kata Bijah belum menemukan indikasi pelaku pembunuh Munir. "Nggak ada apa-apa. Karena kepentingannya apa? Kalau itu benar terjadi diracun itu harus diusut tuntas."Bijah juga menilai kematian Munir merupakan kasus kriminal murni dan tidak mempunyao pengaruh politik apa-apa. Dia menilai sikap kritis Munir yang seriang berbeda dengan TNI tidak membayahakan proses demokrasi. "Adanya perbedaan pendapat dalam diskusi saja itu hal yang wajar. Itu merupakan kekayaan untuk mengetahui pendapat yang berbeda karena pendapat yang berbeda itu merupakan kekuatan kita juga," demikian Bijah.
(iy/)











































