Korban Banjir Minta Bantuan Pakaian Dalam

Proyek Sodetan Ciliwung

Korban Banjir Minta Bantuan Pakaian Dalam

- detikNews
Jumat, 24 Jan 2014 14:10 WIB
 Korban Banjir Minta Bantuan Pakaian Dalam
Korban banjir mengungsi. (foto-detikcom)
Jakarta - Banjir akibat luapan sungai Ciliwung tahun ini dirasakan begitu berat oleh Kholidah, 45 tahun. Sepekan sudah dia mengungsi. Dibanding warga lain, rumah tinggalnya di RT 2 RW 7 kelurahan Rawajati paling dekat dengan bibir kali Ciliwung yang membelah Kalibata-Cililitan, Jakarta Timur.

Selama mengungsi itu pula wanita yang sehari-hari berjualan nasi ini tak bisa berdagang. Kholidah juga dibayangi kekhawatiran, karena banjir bisa datang kapan saja dan menjebol rumahnya. Seperti Selasa malam (21/1) lalu misalnya.

Kholidah tertegun memandangi genangan air yang semakin lama kian tinggi. Dia berdiri bersama ratusan warga lain di kolong jalan layang Kalibata. Di kolong ini lah korban banjir mengungsi. Sekitar 50 meter dari kolong, ada tenda dari PMI dan dua tenda biru yang didirikan oleh pengurus RT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT





Namun tenda itu di rasa terlalu kecil untuk menampung semua warga. Wal hasil banyak yang memilih tidur di kolong jalan layang. Kasur dan peralatan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, rak piring, lemari plastik berisi pakaian, kompor gas, yang masih bisa diselamatkan ditaruh di sana.

Ada juga yang diletakkan begitu saja di jalan raya. Jika air sudah mulai naik, warga bergotong royong menggeser barang-barang itu ke lokasi yang lebih tinggi.

Untuk urusan makan, kebutuhan mereka masih terpenuhi. “Alhamdullilah selalu ada yang kasihlah,” kata Kholidah. Dalam kondisi darurat, memang banyak bantuan yang datang.

Banyak pihak yang tergerak hatinya. Apalagi wilayah Kalibata bukanlah lokasi yang terbilang sulit untuk dijangkau dengan kendaraan.

Untuk kebutuhan obat-obatan, ada mobil pelayanan kesehatan dari salah satu rumah sakit di kawasan Pancoran yang terparkir di sana. “Yang susah enggak ada posko, orang-orang tidurnya ya di sini, di kolong jembatan ini,” kata Kholidah.

Selain itu, “Yang juga jarang ada yang perhatiin itu masalah pakaian dalam, itu penting juga,” kata dia.

Bagi wanita seperti Kholidah yang masih mempunyai anak usia 6 tahun, persoalan kebutuhan anak dan bayi tentulah jadi isu penting. “Susu anak dan pampers, kita susah nyarinya,” kata dia.

Pengamat Tata Air dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali menilai pemerintah masih terlalu lamban menangani banjir. Sejumlah program yang kini dilakukan, seperti pembangunan waduk Ciawi, dan Sukamahi baru bisa dirasakan paling cepat lima tahun lagi.

“Sampai 2018 banyak-banyaklah berdoa, sabar-sabarlah menerima bencana ini. Memang pemerintah pusat sangat terlambat menangani masalah Ibu Kota, tidak pernah belajar dari banjir 2002, 2007, 2013,” kata Firdaus kepada detikcom.


(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads