Informasi itu langsung membuat resah warga, khususnya yang di kawasan RW 7, Kelurahan Rawajati, Kalibata. Sebab, tempat tinggal mereka hanya sepelemparan batu dari bibir Kali Ciliwung.
Benar saja. Sejak pukul lima sore, air coklat keruh mulai meluap menyambangi kediaman mereka. Arus air cukup deras dan datangnya juga sangat cepat. Pengamatan detikcom pada Selasa malam, debit air meningkat dalam waktu yang cepat. Batu bata merah yang diletakkan sebagai tanda, hanya dalam beberapa menit sudah digenangi air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, pengamat tata air dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan pemerintah masih terlalu lamban sehingga dampak dari program-program tersebut baru bisa dirasakan paling cepat lima tahun lagi.
Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta ini menyebutkan Waduk Ciawi dan Sukamahi paling cepat dibangun 2015. Untuk pembangunannya paling cepat butuh waktu tiga tahun sehingga selesainya paling bisa tahun 2018.
"Itu kalau bekerja betul-betul luar biasa dan dalam keadaan darurat, sebab itu butuh desain dan pembebasan tanah," kata dia ketika dihubungi detikcom, Selasa (21/01/2013).
Lalu bagaimana dengan rencana yang mengundang kontroversi yakni proyek sodetan Ciliwung-Cisadane? Yang jelas, ujar Firdaus, merealisasikan sodetan Ciliwung-Cisadane kecil sekali kemungkinannya. Kecuali jika masyarakat Tangerang bersama bupatinya betul-betul ikhlas dengan konsekuensinya.
"Ahmed Zaki Iskandar (Bupati Tangerang) sudah keras sekali mengatakan 'no way', jadi bagi saya, untuk sementara ini lupakan itu dulu. Sekadar wacana,” jelas Firdaus.
“Sampai 2018 banyak-banyaklah berdoa, sabar-sabarlah menerima bencana ini. Memang pemerintah pusat sangat terlambat menangani masalah ibu kota, tidak pernah belajar dari banjir 2002, 2007, 2013,” kata dia melanjutkan.
Pesimisme yang dirasakan pihak Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, saluran buatan yang dibangun di hilir Ciliwung itu dipastikan bakal menambah beban air di Kali Cisadane. Padahal selama ini kali itu pun sudah kerap meluap kapasitas airnya sehingga menyebabkan banjir di kawasan Tangerang.
(ros/brn)










































