Untuk rencana proyek sodetan Ciliwung-Cisadane hingga sekarang masih menjadi kontroversi. Masyarakat Tangerang menolak karena takut terkena limpahan banjir.
Berdasarkan perencanaan, rute awal sodetan ini dimulai dari Kelurahan Ranggamekar, Katulampa, Bogor, Jawa Barat, hingga berakhir di Sukasari, Cisadane, Kota Tangerang, Banten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Humas Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Putu Wirawan menyebutkan sistem sodetan ini sudah disesuaikan dengan kapasitas Kali Cisadane. Kapasitas debit air di Sungai Cisadane maksimal bisa menampung sekitar 1.900 meter kubik per detik.
Sementara, dalam kondisi banjir besar, sungai ini bisa menampung debit sekitar 1.150 meter kubik per detik. Adapun, kondisi maksimal air di Sungai Cisadane mampu menampung 1.350 meter kubik per detik. Artinya, masih di bawah beban maksimal daya tampung.
Namun begitu, Putu juga menekankan perlunya segera dilakukan pembahasan di antara dua pemerintah daerah. "Harus dikomunikasikan kembali dengan pemerintah setempat. Bagaimana baiknya,β ujar dia.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum Danis Hidayat Sumadilaga mengatakan alasan pemerintah membuka kembali desain sodetan Ciliwung-Cisadane mengingat banjir besar setiap tahun menghampiri Jakarta.
Danis tidak menampik penolakan masyarakat Tangerang terkait proyek ini membuat tertunda. Padahal, selain Ciliwung-Cisadane, sodetan Cipaganti-Pangandaran saat itu sudah masuk sebagai dua masterplan yang bakal dibuat Kementerian PU.
Namun, karena persoalan izin membuat dua proyek ini tertunda. "Ini semua sudah dianggarkan jadi tinggal teknis pelaksanaannya,β kata Danis saat ditemui detikcom, Selasa (21/01/2014).
(hty/brn)











































