Hampir setiap partai ketika kampanye terbuka melibatkan grup musik terutama dangdut. Gun Gun melihat dangdut merepresentasikan masyarakat kelas bawah dan bisa membuat larut dalam euforia momentum.
Misalnya, orang bisa relaksasi sekaligus melepaskan kepenatan mereka. “Tapi pengaruhnya bukan pada elektabilitas melainkan pada mobilisasi massa di area kampanye,” ujar Gun Gun kepada detikcom, Senin (20/01/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musik ini disodorkan bukan tanpa alasan. “Saya lihat simpel saja sih, itu bisa jadi daya tarik, karena mampu memobilisasi masyarakat akar rumput atau kelas bawah untuk datang," kata Gun Gun.
Bahkan, Gun Gun menyoroti masyarakat bawah lebih tertatik pada musik dangdutnya dibandingkan program-program partai atau caleg.
“Banyak partai yang tak siap dengan pola resiprokal, ya mereka kasih saja musik dangdut sehingga masyarakat jauh lebih menikmati euforia momentum bermusik daripada meneliti, menelaah apalagi mempertimbangkan gagasan saat kampanye.”
Agar partai tidak jadi inferior, Gun Gun menambahkan, para pendulang suara seperti tokoh agama, pengusaha atau bahkan artis yang dibawa dalam kampanye seharusnya yang sedang dalam proses kaderisasi partai.
“Kalau dia jadi kader partainya, dia jadi loyalis dan berpartisipasi dalam kampanye ya oke saja seperti Nurul Arifin jadi jurkam," jelas Gun Gun.
"Tapi kalau Trio Macan yang dibawa kan aneh. Atau misalnya Angel Lelga yang jadi caleg dari PPP, itu saya lihat political jumping. Malah jadi citra buruk dan memalukan bagi partai yang bersangkutan ketika dia diuji dalam diskusi di stasiun televisi,” lanjut Gun Gun.
(ros/brn)











































