NU Bisa Solid Bila Gus Dur dan Hasyim Turun Panggung
Selasa, 30 Nov 2004 14:47 WIB
Jakarta - Muktamar NU ke-31 di Boyolali memanas, karena munculnya dua kubu, yaitu kubu Gus Dur dan kubu Hasyim Muzadi dalam memperebutkan pimpinan NU. Bila salah satu kubu ini menang, maka NU ke depan dinilai akan dirundung konflik. Karena itu, sebaiknya baik Gus Dur atau Hasyim lebih baik turun panggung dari kepengurusan NU. Penilaian ini disampaikan peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Syamsuddin Haris saat ditemui detikcom di kantornya di Jl. Gatot Subroto, Selasa (30/11/2004). Syamsuddin tidak setuju anggapan bahwa hanya Hasyim yang telah mempolitisasi NU terkait pencalonan Hasyim sebagai wakil presiden beberapa waktu lalu. Menurut Syamsuddin, sebenarnya baik Gus Dur maupun Hasyim Muzadi telah mempolitisasi NU. "Bagaimana pun, Gus Dur harus konsisten sebagai ketua Dewan Syuro PKB, sehingga tidak terlampau jauh memasuki soal NU. Sebab, memang ada ketentuan bahwa siapa saja yang sudah berada di politik praktis, PKB atau partai lainnya, itu tidak bisa berkecimpung lagi di NU. Maka, agak aneh, bila Gus Dur sempat menyatakan siap menajdi rais am PBNU," kata Syamsuddin. Syamsuddin menilai, bila Gus Dur dan Hasyim tetap ngotot untuk berperan dalam kepemimpinan PBNU periode mendatang dan salah satunya memenangkan pemilihan, maka akan menimbulkan gejolak di NU. Bila NU tidak mau bergejolak, tentu baik Hasyim atau Gus Dur harus mengalah. Seharusnya, keduanya tidak lagi masuk dalam kepengurusan formal NU hasil muktamar saat ini. Sebab, jika salah satu dari dua tokoh itu masuk, akan menimbulkan pengelompokan friksi internal NU," jelasnya.Berita sebelumnya, Gus Dur memprotes keras pencalonan Hasyim Muzadi sebagai ketua umum PBNU. Salah satu alasan Gus Dur, Hasyim telah mempolitisasi NU. Karena itu, Gus Dur mengajukan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai ketua umum PBNU periode mendatang. Namun, Hasyim Muzadi tetap bersikeras siap menjadi ketua umum PBNU untuk kedua kalinya. Dua orang inilah yang mengemuka di arena muktamar sebagai kandidat ketua umum PBNU. Lantas bagaimana bila Gus Mus yang memenangkan pertarungan ini? Menurut Syamsuddin, bila Gus Mus yang menang, maka NU akan lebih diuntungkan. "Kalau Gus Mus menang, akan lebih banyak positifnya. Setidaknya, konflik atau pertikaian kedua kubu, Gus Dur dan Hasyim, bisa didamaikan," kata dia. Lebih lanjut, Syamsuddin melihat Gus Mus akan bisa menjembatani antara Gus Dur dan Hasyim Muzadi. "Gus Mus akan bisa menjembatani keduanya, meski Gus Mus merupakan usulan Gus Dur. Namun, sebenarnya, Gus Mus lebih dekat ke Kiai Langitan ketimbang yang lain," jelasnya. Tapi, bagaimana kalau Hasyim Muzadi yang terpilih? Menurut Syamsudin, terpilihnya Hasyim akan menjadikan NU dilematis. "NU akan mengalami konflik berkepanjangan dan konlik itu tidak akan menguntungkan kaum nahdliyin. Di samping itu juga, kemungkinan akan muncul PBNU tandingan, seperti yang pernah diancamkan Gus Dur. Karena itulah, sebaiknya Gus Dur dan Hasyim sama-sama turun panggung," ungkapnya. Syamsuddin menyayangkan bahwa muktamar NU ke-31, yang seharusnya bisa menjadi ajang bagi kiai atau ulama NU untuk meningkatkan kualitas nahdliyin, malah menjadi ajang perebutan kekuasaan. "Pilihan baik bagi Hasyim atau NU, kalau memang Hasyim cukup peduli dengan masa depan NU dan keutuhan NU, sebaiknya Hasyim mundur sebagai cakon ketua umum PBNU," ujarnya.
(asy/)











































