Panggung Dangdut Kampanye Belum Ada Matinya

Fenomena Politik Dangdut

Panggung Dangdut Kampanye Belum Ada Matinya

- detikNews
Rabu, 22 Jan 2014 12:54 WIB
 Panggung Dangdut Kampanye Belum Ada Matinya
(Fotografer - Agung Pambudhy)
Jakarta - Beragam persiapan untuk penyelenggaraan pesta demokrasi pemilihan umum legislatif sudah dilakukan oleh partai politik dan calon legislator. Mereka sudah punya strategi kampanye tersendiri.

Namun ada satu kesamaan yakni masih menggunakan kampanye terbuka dengan menggandeng artis dan penyanyi dangdut.

Bagi Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Hanura, Arya Sinulingga pendekatan lewat musik tidak ketinggalan untuk mendekati massa. β€œKalau musik sudah pasti ada, Amerika saja masih pakai musik kan,” kata dia ketika berbincang dengan detikcom melalui sambungan telepon, Senin (20/01/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arya menuturkan, musik yang akan ditampilkan disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang akan didekati. Ia tak menampik jika dangdut adalah salah satu musik yang akan digunakan ketika kampanye terbuka. β€œKalau massanya memang suka dangdut, maka akan disesuaikan."



Hiburan dangdut sejauh ini memang bisa menarik massa untuk datang ke kampanye. Musik juga dijadikan media untuk menahan khalayak tetap berada di tempat ketika kandidat atau partai memberi orasi politik.

Tapi Arya mengakui jumlah massa yang signifikan saat kampanye tidak bisa dijadikan jaminan jumlah suara saat pemilihan. "Kampanye itu gagal jika pas musiknya massa ramai tapi saat ngomong politik tidak ada orang yang mendengar,” ujar dia.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan juga mengakui pihaknya sudah menyiapkan beberapa artis dan penyanyi dangdut untuk digandeng selama kampanye.

Namun Ferry mengatakan partainya melihat bukan semata pada figur penyanyinya. Sebab, menampilkan penyanyi hanya untuk menyajikan hiburan. "Bukan jadi daya tarik dalam pemilu,” katanya kepada detikcom, Senin (20/01/2014).

Pernyataan Ferry ini memang terkesan melawan arus. Ia ingin mendobrak stigma umum yang terlanjur melekatkan acara kampanye politik sebagai kegiatan dangdutan semata.

Walau masih mencari format yang akan diterapkan, Ferry membocorkan salah satu perbedaan yang ada dalam kampanye terbuka Nasdem yakni pemanfaatan potensi seni lokal, jaipongan, angklung dari Jawa Barat.

"Tidak melulu dangdut. Kita akui memang dangdutan itu banyak dihadiri orang, tapi kalau itu yang kita tempelkan pada kampanye pemilu partai, ya akan jadi sia-sia," ujarnya.

"Banyak orang yang datang tapi kita tahu kan gak ada perenungan tentang partai. Pastilah ketika pulang diskusinya 'wah mantap tadi dangdutnya' atau 'bahenol tadi penyanyinya',” kata Ferry melanjutkan.

(ros/brn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads