"Teknologi ini telah diuji-cobakan di beberapa negara dan hasilnya menunjukkan bahwa teknologi ini aman bagi manusia, hewan dan lingkungan. EDP-Yogya memperkirakan tidak akan ada gangguan ketidaknyamanan yang cukup bermakna dari proses pelepasan nyamuk tersebut," jelas peneliti EDP, Bekti Andari, dalam surat elektronik kepada detikcom, Rabu (22/1/2014).
Menurut Bekti, pihaknya juga melakukan pendekatan alamiah untuk melakukan pengendalian demam berdarah di Indonesia. Penelitian juga tidak mengesampingkan masukan dan pertanyaan dari masyarakat, secara proaktif menanggapi segala masukan yang muncul dari masyarakat.
"Demam berdarah merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan hingga saat ini belum ada metode yang efektif untuk mengendalikan demam berdarah. Bukti dari penelitian laboratorium sebelumnya menunjukkan adanya potensi yang besar dari pendekatan ini untuk menurunkan penularan demam berdarah," urai dia.
EDP-Yogya telah melakukan proses pelibatan masyarakat secara intensif selama lebih dari dua tahun di wilayah penelitian dan mendapatkan dukungan yang luar biasa dari sebagian besar penduduk di wilayah tersebut.
"Kami sangat menghargai pandangan dari seluruh warga setempat, termasuk sebagian kecil warga yang menyatakan ketidaksetujuannya untuk terlibat dalam penelitian dan tidak melibatkan mereka dalam penelitian ini apabila mereka meminta," imbuhnya.
Penelitian ini, lanjut Bekti, telah mendapat tinjauan secara ekstensif dari pihak-pihak terkait dan mendapatkan perizinan dari pemerintah. Penelitian ini juga telah mendapatkan dukungan dari pemerintah dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, termasuk dukungan secara langsung dari Gubernur DIY.
"Penelitian ini dipimpin oleh peneliti dari Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh sebuah yayasan di Indonesia. Penelitian ini juga merupakan bagian dari penelitian kolaborasi internasional yang melibatkan peneliti-peneliti dari 8 negara," tutupnya.
(ndr/nrl)











































