Hasyim Dinilai Gagal Sentuh Problem di Bawah

Hasyim Dinilai Gagal Sentuh Problem di Bawah

- detikNews
Selasa, 30 Nov 2004 12:50 WIB
Solo - PBNU selama kepengurusan Hasyim Muzadi dinilai tidak pernah proaktif menyelesaikan problem warga NU di tingkat bawah, terutama di daerah konflik luar Jawa. Hasyim Cs juga dinilai gagal melakukan pendekatan kultural sehingga terkesan membiarkan 'Jawanisasi Islam' dalam NU.Pendapat tersebut menjadi benang merah diskusi warga NU dari berbagai daerah yang diselenggarakan di Nahdliyyin Crisis Center (NCC), Selasa (30/11/2004) pagi hingga siang. Hadir dalam diskusi para relawan dari empat daerah konflik, yakni Tengku Nur Zahri dari Aceh, Wachidin dari Poso, Abdullah dari Kalbar, dan Ri'fai Darus dari Papua.Nur Zahri dan Abdullah dengan tegas menyayangkan ketidakpedulian PBNU mengurusi problem warganya yang sedang kesulitan di daerah konflik, namun justru tergoda untuk menerima iming-iming kekuasaan di kancah politik praktis."Tidak ada kepedulian secara langsung dari PBNU yang seharusnya itu adalah tugas dan kewajibannya," ujar Abdullah.Hal serupa juga disampaikan oleh Wachidin. Menurutnya, selama dia menjadi relawan di Poso, PBNU tidak pernah terlibat langsung untuk turun tangan menangani masalah umatnya yang teraniaya."Yang terlibat langsung justru person-person muda NU secara pribadi. Anak-anak muda tersebut yang selama ini dicap oleh PBNU sebagai anak-anak muda yang tidak bermoral bahkan tidak dianggap tidak berakhlaq," ujarnya.Kesampingan Kultur LokalRifa'i Darus dari Papua lebih banyak menyoroti peran PBNU yang kurang optimal dalam melakukan pribumisasi Islam. Padahal di Papua, kata dia, penghormatan terhadap adat istiadat menjadi bagian utama dari sikap masyarakat setempat."Yang terkesan saat ini adalah bahwa pribumisasi itu hanya terjadi di Jawa, sehingga NU di Papua pun lebih kental warna Jawanya. Padahal, Islam yang masuk di Papua pada awal abad 19 adalah Islam NU yang sangat menghormati adat lokal. Namun karena kegagalan PBNU meneruskan perjuangan tersebut maka warga NU di Papua semakin berkurang," papar Darus.Hal serupa juga dikuatkan oleh Abdullah. Menurutnya, banyak terjadi konflik antarsuku di luar Jawa yang melibatkan sesama warga NU. "Perbedaan kultur antaretnis sering tidak mempertemukan mereka bahkan sering berujung pada pertentangan fisik. Sebagai organisasi berbasis Islam kultural, NU harus bekerja keras untuk mempertemukannya. Namun demikian PBNU sama sekali tidak melakukannya," ujar Abdullah. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads