Dalam debat kandidat yang digelar Komite Konvensi PD di Istana Maimun, Selasa (21/1/2014) malam, Pramono menyatakan, potensi SDA Indonesia sangat banyak. Perut bumi Indonesia memberikan beragam jenis tambang. Posisinya yang berada di garis khatulistiwa justru menjadi keuntungan lainnya.
Indonesia, kata Pramono begitu luas lautannya, namun alam tidak terkelola dengan baik. Pasalnya pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia belum difokuskan untuk mengelola potensi SDA yang ada itu, mulai dari ikan, coklat hingga batubara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kaitan itu, Pramono juga menyoroti tentang potensi air untuk pembangkit listrik. Seharusnya dengan potensi yang demikian banyak, tidak ada krisis listrik di Indonesia. Toh, air itu juga hanya dipergunakan untuk memutar turbin.
Demikian juga green energy yang belum sepenuhnya dilaksanakan. Minyak dan gas akan habis sewaktu-waktu, sebab itu green energy harus menjadi bagian dari pola hidup masyarakat.
Sementara Hayono Isman memanfaatkan momen debat konvensi untuk menyampaikan pesan lingkungan. Para capres dan juga calon anggota legislatif (caleg) diajak untuk tidak menyakiti pohon.
“Para calon presiden dan juga para caleg, jangan memaku pohon, jangan menyakiti pohon untuk kepentingan kampanye,” kata Hayono Isman saat menjawab pertanyaan yang diajukan moderator.
Imbauan ini bagian dari uraiannya tentang langkah yang diambilnya terkait penanganan bencana alam. Menjaga lingkungan, merupakan upaya pertama untuk menanggulangi bencana. Dalam upaya yang paling kecil, kata Hayono, tindakan itu adalah dengan tidak merusak pohon, sebab pada masa kampanye, sering kali pohon menjadi tempat menempelkan spanduk dengan cara dipaku.
Dalam skala yang besar, masalah lingkungan itu berujung pada penderitaan rakyat banyak. Banjir hanyalah satu contoh. Namun pada sisi lain penanganan terhadap korban bencana haruslah tersinergi antara seluruh komponen daerah dan pusat. Hal itu misalnya perlu dilakukan dalam penanganan bencana letusan Gunung Sinabung, sehingga tidak ada masyarakat yang merasa tidak diperhatikan.
(rul/tor)











































