Kepala Hubungan Masyarakat RSJD Kota Surakarta, Dyah Sri Marwati mengatakan pihaknya memberikan perlakuan yang sama kepada semua pasien. Semua kegiatan rumah sakit tidak terkait dengan kegiatan politik, apalagi menjelang pemilihan umum.
βKami memberikan pelayanan yang sama terhadap siapapun tanpa memandang segmen, dengan prioritas kepada yang kurang mampu secara ekonomi,β kata Dyah kepada detikcom, Kamis (16/1) pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi menurut dia, usai pemilu 2009 lalu di Surakarta tidak ada kasus caleg stres setelah dinyatakan gagal menjadi anggota dewan.
Memang menjelang batas akhir pendaftaran calon anggota legislatif April 2013 lalu, ada sejumlah orang yang mencari surat keterangan sehat kejiwaan dan bebas narkoba. Namun jumlahnya tidak sampai membuat petugas rumah sakit kewalahan.
βKarena memang rumah sakit kami bukan satu-satunya yang bisa mengeluarkan surat keterangan itu,β kata Dyah.
Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta juga tidak melakukan persiapan khusus untuk mengantisipasi adanya caleg stres. Sekretaris RSJ Grhasia, Indah Mawarni, mengatakan pihaknya siap melayani pemeriksaan terhadap pasien gangguan jiwa dan Napza atau Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain.
Saat ini di rumah sakit yang lokasinya tak jauh dari obyek wisata Kaliurang ini, sudah ada psikiater dan dokter ahli jiwa. Menurut Indah hingga pendaftaran caleg selesai pada 2013 lalu, RSJ Grhasia paling banyak mendapat kunjungan dari para caleg seluruh DIY.
Sebab rumah sakit ini adalah tempat yang berhak mengeluarkan surat keterangan sehat jiwa dan bebas Napza seperti yang disyaratkan oleh Komisi Pemilihan Umum.
"Semua dokter siap melayani. Rata-rata pasien jiwa yang datang ke sini sebanyak 40-70 orang per hari," ujar Indah.
Terkait kasus usai pemilihan umum 2009, pilkada atau pilihan lurah yang mengalami gangguan jiwa, Indah mengakui memang ada pasien yang mengalami gangguan jiwa. Namun dia tidak bersedia mengungkapkan lebih lanjut.
(erd/erd)











































