Hanya Tergiur Gaji Besar, Bila Kalah Caleg Bisa Stres

Pemilu dan Caleg Stres

Hanya Tergiur Gaji Besar, Bila Kalah Caleg Bisa Stres

- detikNews
Senin, 20 Jan 2014 12:30 WIB
Hanya Tergiur Gaji Besar, Bila Kalah Caleg Bisa Stres
Alat peraga kampanye. (foto ilustrasi-detikcom)
Jakarta - Lima pasien itu datang ke Rumah Sakit Jiwa Menur di Surabaya Jawa Timur dalam waktu hampir bersamaan, yakni pada pertengahan tahun 2009. Sayang, Abdul Habib yang saat ini menjabat Kepala Ruangan Paviliun Puri Anggrek di rumah sakit tersebut mengaku lupa waktu persisnya.

Namun yang pasti kelima pasien itu adalah calon anggota legislatif yang kalah dalam pemilihan umum 2009 lalu. Setelah dipastikan namanya gagal menduduki kursi di parlemen mereka mengalami gangguan kejiwaan alias stres.

"Waktu itu kalau saya nggak salah ingat, ada 5 orang pasien caleg (stres). Tapi tidak sampai parah ya. Tingkat stresnya di level sedang,” kata Habib kepada detikcom, Kamis (16/1) pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tingkat stresnya masih di level sedang, namun para caleg tersebut harus menginap beberapa hari di rumah sakit jiwa. "Ya teriak-teriak begitu, ada juga. (Caleg) mengalami gangguan jiwa secara umum saja. Mereka juga sembuh ya, karena cepat tertangani. Buktinya tidak kembali lagi," kata Habib sembari tertawa.
 

 
Menurut dia ketakutan dan kecemasan memang hal yang wajar bagi seorang manusia. Namun, untuk para caleg, ketakutan dan kecemasan yang mereka alami bisa berlebihan, sehingga menjadi penyebab stres. Faktor inilah yang bisa menyebabkan kesehatan jiwa para caleg menjadi terganggu.

Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, Adi Wirachjanto mengatakan, potensi seorang caleg terkena stres bisa sangat tinggi. "Kalau caleg kemungkinan stresnya bisa lebih tinggi karena Caleg-caleg itu kan orang yang berambisi banget,” kata Adi.

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai fenomena maraknya caleg stres karena mereka tidak siap mental dan tidak mengukur kemampuan diri. Sosialisasi kampanye yang menghabiskan dana besar dan tekanan sosial menjadi penyebab utamanya.

Dia melihat, selama ini tujuan seseorang menjadi anggota legislatif adalah karena tergiur gaji yang besar, dan menguntungkan dari sisi pendapatan. Sehingga mereka rela merogoh 'kocek' sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah selama kampanye. Para caleg tersebut merasa uang yang dikeluarkan selama masa kampanye akan bisa kembali dalam waktu sebentar setelah mereka menjabat.

Akibatnya saat mereka gagal terpilih potensi mengalami guncangan kejiwaan sangat tinggi. “Mereka (caleg) itu ngutang gila-gilan dan banyak ngomong sosialisasi ke masyarakat. Kalau enggak siap mental dan risikonya ya stres. Mereka enggak realistis dan enggak ngukur kemampan sendiri. Itu masalahnya,” kata Hamdi saat ditemui Hardani Tri Yoga dari detikcom di Gedung Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jumat (17/1) pekan lalu.
(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads