Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono Prabowo menjelaskan, saat ini yang utama adalah adanya dominasi angin baratan di wilayah selatan equator yang sebagian berasal samudera Pasifik.
Angin tersebut merupakan angin yang berasal dari samudaera Pasifik di utara Papua, timur Jepang, lalu mengalir ke timur laut membelok ke arah barat daya dengan lintasan agak miring, lalu bebelok ke arah tenggara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua angin tersebut lanjut Mulyono, membawa uap air sangat banyak sehingga berpotensi menimbulkan pertumbuhan awan yang kuat di wilayah Sumatera bagian tengah, selatan, barat, Bengkulu, Lampung, hingga Jawa, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Sulawesi bagian selatan, utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian Tenggara, Papua bagian selatan, dan beberapa bagian Papua lainnya.
"Ini dominasi angin baratan yang timbulkan awan yang aktif. Ini memberikan potensi turunnya curah hujan dengan intensitas sedang sampai lebat, seperti wilayah Jabodetabek," jelas Mulyono saat berbincang dengan detikcom, Jumat (17/1/2014).
Mulyono menambahkan, cuaca seperti ini diperkirakan akan terjadi dalam durasi yang cukup panjang hingga akhir Januari atau awal Februari. Banjir sesaat yang melanda Jakarta beberapa hari lalu akibat hujan lebat di hulu dan hilir diprediksi akan terulang kembali.
"Sebetulnya kalau (banjir kemarin) disebut puncak, kita belum bisa sampaikan. Kita masih lihat perkembangannya. Ini akhir Januari sampai awal Februari di Jabodetabek. Dimungkinkan akan berulang kondisi seperti ini," imbuh Mulyono.
(rmd/fdn)











































