3 Cerita Geramnya Ahok Saat Difitnah

3 Cerita Geramnya Ahok Saat Difitnah

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 16 Jan 2014 10:12 WIB
3 Cerita Geramnya Ahok Saat Difitnah
Jakarta - Siapa pun bakal naik pitam saat dicatut namanya oleh orang-orang iseng. Begitu pula yang dirasakan Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjadi kerepotan meluruskan kabar burung tersebut.

Ahok tidak ingin warga Jakarta menjadi gundah gulana akibat ulah-ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Ia meminta kepada pelaku penyebar pesan palsu itu menstop aksi mereka.

Berikut 3 cerita geramnya Ahok saat difitnah:

1. Broadcast message banjir = Hoax

Ahok tiba-tiba berkicau di akun twitternya @basuki_btp. Isinya mengimbau agar warga DKI tak percaya dengan pesan berantai broadcast message soal tanggul yang akan dibuka dan mengakibatkan banjir di kawasan Sudirman-Thamrin.

"Broadcast message yang menyebutkan Thamrin-Sudirman akan banjir karena tanggul dibuka adalah tidak benar," tulis Ahok, Rabu (15/1/2014).

Pagi ini memang beredar broadcast. Banyak juga pembaca yang menanyakan perihal broadcast soal kebenaran isi pesan itu. Lewat jawaban Ahok sudah dipastikan bahwa isi broadcast itu hoax alias palsu.

"Mohon jangan menyebarkan BM tersebut," tambah Ahok lagi.

Adapun isu broadcast hoax yang tersebar itu yakni:

"Pagi ini pemprov DKI Jakarta bpk AHOK meminta maaf kpd warga Jakarta,karna tanggul ciliwung pagi ini tgl 15 Januari 2013 pukul 9.30, terpaksa di buka kembali,karna sudah tidak kuat menahan tekanan air yang datang dri arah bandung & bogor,mohon warga jakarta untuk segera siaga 1,air akan datang sekita 4 jamm dri tanggul di buka, ini dilakukan pemprov,unk menanggulangi agar banjir tidak semakin berlarut2,unk warga jakarta yang berada daerah thamrin,sudirman,pengadegan,gatot subroto,dan daerah sekitarnya,mohon unk segera cari posko aman,mohon yang sudah trima pesan ini,langusng infokan ke saudara2 yang lain agar lebih siaga, terima kasih".

Ahok geram dengan adanya broadcast hoax soal banjir Jakarta yang mengatasnamakan dirinya. Ia merasa isi pesan itu memfitnah dirinya.

"Itu orang kalau mau fitnah suruh belajar sama saya dulu. Fitnahnya kok bego banget. Mana ada (di) Ciliwung tanggul?" kata Ahok.

"Bikinnya sih hebat ya. Cara bikinnya, seolah-olah Ahok paling berani. Makanya cara bikinnya hebat banget, Ahok jadi lembut banget. Pakai minta maaf segala," ujar mantan Bupati Belitung Timur itu.

Ia tak akan mencari pelaku penyebar pesan meresahkan itu. Ia pun tegas menilai pelaku sebagai pengecut karena menggunakan namanya. "Kalau mau fitnah saya, jangan jadi pengecut, terus kalau kurang pintar, saya ajarin cara bikin fitnah yang lebih mantep," tutup Ahok.

Meski Ahok telah menyatakan bahwa pesan itu palsu, namun warga Kampung Pesing Kedoya Utara sempat dibuat panik.

"Itu benar atau tidak sih sebaran sms soal tanggul yang mau dibuka karena tidak kuat menahan kiriman dari Bogor?" tanya seorang warga Wawan kepada wartawan di Warung Makan Bapak Sahri Kampung Pesing, Kedoya Utara, Jakarta Barat, Rabu (15/1/2014).

"Itu palsu, tadi Pak Ahok sudah bilang agar masyarakat tak mempercayai pesan itu," jawab wartawan.

2. Ahok Center, Gue Suruh Bubarin!

Ada nama Ahok Center sebagai mitra CSR perusahaan untuk warga Waduk Pluit di Rusun Marunda. Ahok menegaskan munculnya nama itu hanya kesalahan administrasi.

"Rupanya ada format baku dari kementerian untuk buat laporan, yang biasa itu ada mitra CSR. Mereka pikir kolom ini mau diisi apa mitranya. Dia isi itu Ahok Center, kesalahan di situ saja," kata Ahok di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (16/8/2013).

Dia menegaskan tidak ada lembaga Ahok Center. Pengawasan proyek bantuan CSR berupa furnitur dan elektronik dilaksanakan ada relawan Jakarta Baru (JB) dan LSM.

"Ahok Center dari mana? Saya nggak pernah bikin Ahok Center. Apa lagi ada tuduhan kita terima uang CSR, fitnah banget, kejam banget," tegasnya.

Namun demikian dia tidak berencana mengambil langkah hukum atas penggunaan namanya tersebut. Ia mengerti kesalahan dari jajaran Dinas Perumahan DKI.

"Langkah hukum apa? Nggak ada salah apa-apa, nggak dibayar. Itu cuma kesalahan ini saja. Saya sudah panggil Dinas Perumahan," kata Ahok.

Menurutnya, organisasi itu hanya inisiatif relawan dan simpatisan yang kerap melaporkan masalah-masalah di Jakarta. Ahok juga membantah Ahok Center mengelola dana dari CSR perusahaan. Sepengetahuannya, Ahok Center hanya bersifat mengawasi karena tak memiliki rekening tertentu untuk pembiayaan kegiatannya.

Suami Veronica Tan ini pun menegaskan akan membubarkan Ahok Center jika bermasalah. Terutama terkait tuduhan mengelola pemberian CSR di Rusun Marunda.

"Besok juga gue suruh bubarin, nggak boleh lagi pakai Ahok Center. Lu mau tulis relawan, tulis relawan Ahok saja, nggak usah Ahok Center kalau jadi masalah," ujar Ahok.

3. Pangkas Dana Pintu Air, Fitnah

Ahok tak terima jika permasalahan pintu air dikaitkan dengan kebijakannya memangkas 25% anggaran Dinas Kebersihan. Ia menganggap itu sebuah fitnah.

"Bukan. Uang sudah ada. Yang ngomong itu siapa? Banyak oknum setannya di situ. Siapa yang bilang? Minta tolong kalau wawancara sama PNS, catat nama dan pangkatnya siapa, kalau rekamannya jelas, saya kasih sanksi. Brengsek sekali main fitnah, gitu loh," kata Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (17/7/2013).

Ia mengaku biaya untuk pengangkutan sampah pintu Manggarai sudah tersedia. Yang dilakukannya pun bukan pengurangan anggaran tetapi efisiensi anggaran. Ia berdalih pengurangan itu dilakukan karena nominal yang tertera dalam proposal berlebihan.

"Kita hanya mengurangi 25% dari item Anda. Bukan pekerjaan Anda. Yang kami maksud harga Anda yang kemahalan," lanjutnya.

Menurutnya, apabila pengurangan anggaran tersebut tidak berpengaruhi karena terbukti masih ada sisa dana serapan sebesar Rp, 1,3 triliun. Dengan sisa dana sebesar itu, maka jikapun anggaran akan dipotong 40% masih tetap tidak berpengaruh.

"Berarti potong 40% pun masih bisa. Tahun depan akan saya potong 40%," terang politisi Gerindra ini.

Tak tanggung-tanggung, ia pun meminta PNS DKI yang tak sepaham dengannya untuk mengundurkan diri secara terhormat.

"Saya sudah bilang kalau tidak suka di DKI, mohon maaf aja kami masih punya jatah 51 bulan disini. Tapi kalau nggak senang, keluar. Saya tanda tangan suratnya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 4
(aan/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads