Layaknya sebuah hunian, tiap petak tenda memiliki tempat untuk tidur dan tempat untuk masak. Deru kereta ditambah dengan teriakan belnya cukup sering terdengar saat melintas.
Satu dari deretan tenda itu adalah sekumpulan bapak-bapak. Melepas lelah usai bersih-bersih, mereka membincangkan sang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima orang lainnya pun tertawa mendengar pendapat Mul yang sederhana itu. Budiman (44) kemudian menimpali pendapat Mul.
"Ya memang, semenjak Pak Jokowi jadi gubernur sudah sering sungai-sungai dikeruk. Wilayah RW 2 dulunya hujan sedikit saja langsung banjir. Tapi sekarang tidak begitu. Kalau banjir pun lebih cepat surut," sahut Budiman yang kemudian menyeruput kopi hitam.
Nampak paling senior dari lainnya, Dirjo (60) berharap suatu hari warga Kampung Pesing dikunjungi oleh Jokowi. Dia ingin sampaikan agar Jokowi sabar menghadapi banjir.
"Pak Jokowi kan Gubernur Jakarta, lha wong banjirnya kiriman dari Bogor kok. Ha ha ha," kelakar dia.
Mul kemudian angkat bicara lagi. Dia menjelaskan permasalahan banjir di kampungnya adalah karena saluran air yang mampet.
"Selokan-selokan kita itu dangkal semua, lebarnya pun sempit sekali. Ditambah sampah yang menyumbat, walaupun posisi kita ini dekat sungai tetap saja air tidak bisa mengalir ke sungai," papar Mul.
"Kalau program rekayasa cuaca mungkin pikiran kita belum sampai ke sana, kita tetap optimis program itu berhasil. Tapi yang paling nyata buat kita hanya memperdalam selokan-selokan dan diperlebar. Jadi daya tampungnya lebih banyak dan airnya lancar," imbuh Mul sambil mengepulkan asap rokok.
(/)










































