Rebut Rais Am, Mbah Sahal Siap Bersaing dengan Gus Dur
Senin, 29 Nov 2004 15:24 WIB
Boyolali - Perebutan posisi rais am PBNU pada Muktamar NU ke-31 kian ramai. Rais Am PBNU periode 1999 - 2004 KH Sahal Mahfudz atau Mbah Sahal menyatakan siap dicalonkan jika dikehendaki muktamirin. Dirinya juga siap bersaing dengan Gus Dur.Kesiapan Mbah Sahal ini disampaikan juru bicaranya, Ahmad Mu'ad Tohir kepada wartawan di Media Center Asrama Haji Donohudan Boyolali, Senin (29/11/2004). Dalam muktamar kali ini , kata Mu'ad, tidak ada upaya menjegal seseorang, baik calon ketua tanfidziyah maupun rais am. Setiap orang bisa mencalonkan diri asal disetujui peserta muktamar."Jika dikehendaki muktamirin, Mbah Sahal siap dicalonkan. Termasuk jika beliau akan bersaing dengan Gus Dur. Itu kalau Gus Dur diajukan oleh peserta," kata Mu'ad.Mengenai figur ketua tanfidz, Mua'd yang juga Ketua PCNU Pati ini kembali mengatakan hal yang sama. Mbah Sahal, kata Mu'ad, mempersilakan siapa pun calonnya. Jika disetujui muktamirin, Mbah Sahal sudah pasti juga akan menyetujuinya.Seruan Rais Am Mu'ad mengaku kehadirannya di Media Center atas utusan Mbah Sahal. Dia didaulat membacakan seruan rais am karena melihat ada gerakan-gerakan atau dinamika yang luar biasa. Terutama untuk menangkal isu-isu yang silang sengkarut di arena muktamar.Dalam seruannya, kata Mu'ad, rais am mengatakan setiap muktamirin diharapkan memahami NU secara utuh. Sesuai garis khittah. NU tidak terikat dengan satu pun partai politik. Nahdliyin diharapkan bisa memisahkan wilayah kekuasaan, kebangsaan, dan kerakyatan NU."Rais mengimbau bagi warga NU yang berpolitik dipersilakan terus berpolitik dengan syarat tidak melibatkan organisasi maupun massa," kata Mu'ad.Seruan yang terdiri dari 9 poin itu juga menyebutkan elit politik yang berada di struktur (NU) tidak lagi boleh menjabat atau menjadi calon pengurus NU, kecuali jika yang bersangkutan mengundurkan diri sebelum pencalonan.Terakhir, kata Mu'ad, rais am mengharapkan setiap orang tidak melakukan intervensi terhadap penyelanggaraan muktamar. "Rois mengharapkan warga nahdliyin bisa memahami seruan ini sebagai landasan membangun NU ke depan," ujarnya.Ketika ditanya soal adanya poin yang diduga menyindir Gus Dur, Mu'ad membantahnya. "Tidak ada satu pun poin yang mengarah ke sana. Seruan itu murni berdasar atas dinamika muktamar," demikian Mu'ad sambil ngeloyor meninggalkan wartawan yang kelihatannya belum puas dengan jawaban yang diberikan.
(asy/)











































