Diperiksa Kasus Munir, Kru Garuda Dibebaskan dari Tugas
Senin, 29 Nov 2004 14:57 WIB
Jakarta - Direktur Utama Garuda Indra Setiawan mengatakan karyawan Garuda yang diperiksa dalam kasus kematian Munir dibebaskan dari tugas. Sebanyak 20 karyawan Garuda telah diperiksa."Sampai saat ini sudah ada 20 orang dari pihak Garuda yang diperiksa polisi. Untuk hari Selasa (30/11/2004) besok, kami diminta mempersiapkan lagi orang-orang yang akan diperiksa. Kami hanya bisa memfasilitsi pemeriksaan dan penyiapkan orang-orang sesuai kebutuhan polisi agar semua lebih lancar dan jelas," kata Dirut Garuda Indra Setiawan usai Rapat Dengar Pendapat antara Garuda dengan Komisi V (bidang Perhubungan) di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/11/2004)."Saya tidak tahu polisi sedang memeriksa karyawan yang mana. Tetapi setiap karyawan Garuda yang akan diperiksa akan dibebaskan dari tugas," lanjutnya. Indra juga menyatakan dirinya siap diperiksa dalam kasus kematian Munir. "Pokoknya kami akan memenuhi setiap kebutuhan polisi. Saya pun kalau ingin diperiksa siap saja," ujar Indra.Jika karyawan terlibat?"Polisi saja menganut azas praduga tak bersalah, apalagi kami pimpinan bukan pada tempatnya menjatuhkan sanksi pada yang sedang diperiksa. Kalau pun ada yang sampai dibawa ke pengadilan, kami berkewajiban mencari pengacara dan hasilnya diserahkan saja ke pengadilan," papar dia.Ketika ditanya kemungkinan intel yang menyusup di Garuda, Indra menjawab proses penerimaan pegawai telah sesuai kompetensi di bidang masing-masing."Saya tidak tahu, namanya intel kalau ketahuan itu intel Melayu dong, yang jelas proses penerimaan pegawai sesuai kompetensi di bidang masing-masing. Kalaupun itu keinginan negara memang perlu ditempatkan orang seperti itu, kami kembalikan kepada negara karena kami sebagai BUMN. Tetapi sampai saat ini belum pernah sampai seperti itu," ungkapnya. "Yang jelas kami memberi garansi keselamatan penumpang dalam pesawat Garuda, termasuk makanan karena dalam kasus Munir tidak ada satu pun penumpang lain yang bermasalah dengan makanan. Padahal makanan diberikan random (acak)," demikian Indra.
(aan/)











































