Ahok Galau Hadapi Juru Parkir Liar

Operasi Jaring Motor

Ahok Galau Hadapi Juru Parkir Liar

- detikNews
Kamis, 09 Jan 2014 11:39 WIB
 Ahok Galau Hadapi Juru Parkir Liar
Razia cabut katup pentil digelar karena banyak kendaraan parkir liar. (Foto: detikcom)
Jakarta - Rencana penertiban parkir tak resmi bukan hanya membuat resah para pengguna kendaraan bermotor dan juru parkir liar. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pun dilanda galau. Pria yang akrab disapa Ahok ini mengakui sulit memberantas parkir liar di Ibu Kota.

Salah satu penyebabnya menurut dia karena selama ini persoalan parkir di Jakarta tidak dikelola dengan baik. Penertiban lahan parkir liar tidak disertai dengan pembukaan lapangan kerja bagi juru parkirnya. Wal hasil mereka yang kehilangan pekerjaan akan berpindah membuka tempat parkir di area lain.

“Itu yang bikin pindah-pindah,” kata Ahok kepada detikcom, Selasa (7/1) di kantornya. Namun, menurut mantan Bupati Belitung Timur itu, memikirkan nasib petugas parkir juga bukan hal yang gampang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah mengupayakan membangun sebuah sistem parkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gaji yang ditawarkan kepada juru parkir pun tak tanggung-tanggung, yakni dua kali upah minimum provinsi di Jakarta. Akhir tahun lalu Gubernur Joko Widodo menyetujui besarnya UMP di Jakarta untuk 2014 sebesar Rp 2.441.301.

“Masalahnya sekarang itu rata-rata tukang parkir bawa pulang Rp 150 ribu sehari, terus kalau dia kerja jadi tukang parkir gedung dengan gaji UMP, apa mau enggak? Makanya kami lagi mau membangun sistem pakai mesin parkir itu, gaji mereka (tukang parkir liar) kira-kira dua kali UMP, supaya dia mau?,” kata Ahok.

Sejak September tahun lalu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta gencar melakukan operasi penertiban parkir liar. Rupanya langkah ini memukul pendapatan para juru parkir.

Komarudin, 39 tahun misalnya. Juru parkir liar di kawasan Roxy, Jakarta Barat itu hanya bisa nyengir dan menggerutu karena pendapatannya terancam turun akibat gencarnya razia. Sebelum ada program razia cabut pentil atau copot pelat nomor, ia biasa membawa bersih sedikitnya Rp 60–Rp 80 ribu sehari.

Namun, setelah gencar operasi cabut pentil, pendapatannya berkurang menjadi Rp 40 ribu. Bahkan, pernah hanya memperoleh Rp 25 ribu.

Begitu juga dengan Helmi (32 tahun) juru parkir liar lain di kawasan pasar Tanah Abang. Dia mengaku kaget dengan adanya operasi jaring motor. Sebelumnya dia hanya mengetahui ada razia biasa seperti cabut pentil. Karena ini pula, ia mengaku pendapatannya mengalami penurunan.

Dari pagi hingga lepas tengah hari Helmi mengaku baru mengantongi Rp 20 ribu. “Ini juga dari mobil,” kata dia. Helmi dan Komar berharap Pemerintah Provinsi DKI membuat sebuah kebijakan terkait nasib juru parkir, yang terancam kehilangan pendapatan jika razia gencar dilakukan.

(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads