Pak Ud: Saya Pilih Tidak Hadir di Muktamar daripada Diusir
Minggu, 28 Nov 2004 15:11 WIB
Solo - Salah seorang kiai sepuh yang tidak hadir dalam pembukaan Muktamar ke-31 di Asrama Haji Donohudan Boyolali adalah KH Yusuf Hasyim dari Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Pak Ud, demikian dia biasa dipanggil, mengaku baru mendapat undangan kosong tadi malam. Karena itu dia pilih tidak hadir daripada diusir. Undangan kosong itu juga dinilainya sebagai penistaan.Seperti diketahui, dalam muktamar kali ini, sejumlah kiai sepuh mengaku tidak menerima undangan dalam pembukaan muktamar. Padahal biasanya mereka selalu menerima undangan itu jika ada muktamar. Salah satu kiai itu adalah KH Yusuf Hasyim, satu-satunya putra Hadratussyeich Hasyim Asy'ari yang masih hidup."Baru tadi malam saya menerima undangan itu. Saat di hotel saya ditanyai panitia apakah belum menerima undangan, lalu saya jawab belum. Selanjutnya panitia itu mengambil sebuah undangan dari tasnya dan diberikan saya. Masih kosongan tidak ada namanya," papar Pak Ud dalam jumpa pers di Hotel Lor Inn Solo, Minggu (18/11/2004) siang.Dengan adanya undangan yang tidak jelas ditujukan kepada siapa itu, lanjut Pak Ud, akhirnya dia memutuskan untuk tidak hadir dalam pembukaan. "Saya khawatir diusir oleh satpamnya karena di undangan itu tidak tertera nama saya," lanjutnya.Pak Ud sendiri mengaku tidak akan mempersalahkan undangan kosongan itu. Namun, menurut dia, para pengikutnya marah besar dengan keberadaan undangan tersebut. Undangan itu dinilai sebagai penistaan terhadap dirinya. "Lha apa saya ini tidak punya nama, alamat atau rumah. Apa saya ini gelandangan yang tidak punya identitas kok diperlakukan seperti itu," kata dia.Gus Dur menilai sikap panitia yang tidak mengundang para kiai sepuh itu sebagai tindakan arogan. Dia menilai panitia lebih buruk dari Orde Baru dalam upaya menekan seseorang yang dianggap sebagai pesaingnya. Karena itulah, kata Gus Dur, dalam pembukaan muktamar tadi pagi dia memilih duduk di belakang untuk memberikan solidaritas kepada para kiai sepuh yang tidak mendapat undangan.Informasi yang berkembang di arena muktamar, sejumlah kiai sepuh yang tidak hadir dalam pembukaan dikarenakan tidak mendapatkan undangan. Di antara para kiai sepuh yang tidak hadir itu adalah KH Abdullah Faqih, KH Mas Subadar, KH Salman Dahlawi dan lain-lainnya. Sedangkan KH Muslim Rifa'i Imampuro atau Mbah Liem yang juga tidak menerima undangan tetap hadir dengan alasan demi NU dan bukan demi panitia.Beberapa kiai sepuh lainnya yang tidak menerima undangan akhirnya bisa memasuki arena pembukaan bersama Gus Dur dengan melakukan aksi jalan kaki. Di antara mereka adalah KH Abdullah Abbas (Cirebon), KH Sanusi Baco (Sulsel), KH Akrom Male Basri (Banten), KH Muhaiminan Gunardo (Temanggung), KH Warsun Munawwir (Yogyakarta), KH Yahya Masduqi (Cirebon), KH Shafyan (Situbondo).Selain itu ikut juga dalam rombongan itu Tuan Guru Turmudzi (Lombok), KH Cholil As'ad (Situbondo), KH Hamdan Kholiq Amuntai (Kalsel), KH Masruhin Faqih dan KH Ubaidillah Faqih (Tuban), KH Aminullah Muchsin dan KH Sholeh Kosim.
(asy/)











































