Namun pria yang akrab disapa Pristono itu tak menyebut kepastian penundaan itu akan berakhir. “Saya juga melihat setelah rapat koordinasi. Tapi, ditundanya ini bukan proyek MRT ditunda ya. Tetap berjalan ini kan MRT proyek triliunan. Kalau ditunda-tunda nanti pengaruhnya bisa lama,” kata Pristono kepada detikcom, Senin malam.
Soal penolakan terhadap penutupan, Pristono mengklaim sebenarnya persoalan sudah disepakati. Ia pun menyindir pelaku demonstrasi penolakan lebih banyak penjual karcis dan warga sekitar yang merasa terancam pekerjaannya kalau terminal ditutup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun tujuan Sumatera serta Banten akan fokus di Terminal Kalideres. Para sub bagian pekerja di terminal seperti penjual karcis diharapkan bisa berkoordinasi dengan masing-masing PO bus terkait teknis pemindahan kerja. “Ya enggak perlu demo harusnya. Semua kan dibicarakan baik-baik. Kita juga sudah sosialisasi sejak setahun lalu. Ya, kalau itu tadi ya relokasi pasti ada yang enggak mau,” ujarnya.
Lagipula menurut Pristono, penutupan terminal hanya untuk bus antarkota dan antarprovinsi saja sehingga memang perlu diatur. Namun, bagi warga yang ingin menggunakan jasa antar kota dan provinsi bisa jalur memakai jasa Transjakarta yang memiliki terminal di area tersebut.
“Nanti kalau mau ke Kampung Rambutan atau Kalideres kan masih ada bus kota atau busway,” papar Pristono.
Pengamat perkotaan Nirwono Joga menilai pemilihan Lebak Bulus sebagai depo dan stasiun utama Mass Rapit Transit kurang tepat. Menurut dia, sesuai lokasi dan antisipasi kemacetan, desain Terminal Lebak Bulus semestinya dijadikan stasiun transit.
Dia mengusulkan, rancangan depo dan stasiun utama MRT sebaiknya di daerah Tangerang Selatan. Hal ini sudah diusulkan ke Pemerintah Provinsi serta PT MRT, namun tidak digubris.
Pemilihan lokasi depo dan stasiun akhir perlu dilakukan untuk menyesuaikan daerah sekitar. Bila dipaksakan menjadi depo, area Lebak Bulus kurang tepat karena selama ini sudah menjadi salah satu titik kemacetan.
“Bayangkan saja kalau jadi depo, nanti semua jadi titik pertemuan dari Bintaro, Depok, Tangerang Selatan, Parung. Macetnya bakal lebih parah,” kata Nirwono.
(hty/erd)











































