Tidak hanya Rinti, ibu-ibu lain juga memilih memarkir motornya sekitar 50 meter dari sekolahan karena tidak terendam air. Setelah itu mereka menggendong atau menggandeng dan membawakan sepatu serta tas anak-anaknya.
"Mau bagaimana lagi, daripada anak saya basah, ya saya gendong. Lagipula kalau diterjang motornya bisa mogok. Sudah sering seperti ini," kata Rinti di Jalan Truntum Raya, Tlogosari, Semarang, Selasa (7/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala SD Tlogosari Kulon 06, Sri Oktiningsih mengatakan meski banjir kali ini cukup parah namun tidak sampai masuk ke halaman sekolah. Siswa yang absen pun terhitung hanya 6 siswa kelas 1 SD karena masih kecil-kecil.
"Yang tidak masuk sekolah mungkin karena kebanjiran rumahnya dan orang tuanya repot untuk mengantar. Tapi anak-anak di sini sudah terbiasa kondisi seperti ini," pungkas Sri.
Di sekitar Tlogosari, setidaknya ada tiga sekolah yang akses jalan dan halamanya terendam air. Diantaranya SD Muktiharjo Kidul 01, SD Muktiharjo Kidul 02, dan SD Muktiharjo Lor. Meski demikian kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut tetap berjalan karena jika ada kelas yang terendam air maka dipindahkan ke kelas lain. Beberapa diantaranya memulangkan siswanya lebih awal.
"Tetap ada kegiatan belajar mengajar. Airnya cuma sampai halaman saja," kata salah satu guru Muktiharjo Lor, Kusmini.
Salah satu warga di Tlogosari, Yudi mengatakan beberapa daerah yang rutin terendam banjir, diantaranya yaitu Jalan Tejokusumo, Sidomukti, Sidoluhur, Bokor Kencono, Gajah Birowo, Tlogosari Raya arah Genuk.
"Biasanya banjir parah itu siklus 4 tahunan. Tapi ini lebih sering, kalau hujan deras seperti ini," tandasnya.
Hingga saat ini sejumlah kawasan di Tlogosari masih terendam air dengan ketinggian air dari mata kaki hingga lutut. Bahkan air juga menggenangi pantura tepatnya Jalan Kaligawe dekat dengan rel KA.
(alg/ndr)










































