Pengurus Bajak NU, Muktamar Disarankan Gelar Tobat Massal

Pengurus Bajak NU, Muktamar Disarankan Gelar Tobat Massal

- detikNews
Sabtu, 27 Nov 2004 17:17 WIB
Solo - Katib Syuriah PBNU, Masdar Farid Mas'udi melihat sinyalemen bahwa arogansi yang sedang terjadi di tubuh pengurus NU di berbagai lapisan adalah sebagai tanda-tanda proses terjadinya pembajakan NU oleh pengurus dari pemiliknya. Dia juga menyarankan ada agenda pertobatan massal dalam muktamar mendatang."NU itu milik para kiai dan umat, bukan milik pengurus. Pengurus hanyalah pelayan para kiai dan umat itu. Tapi akhir-akhir ini ada sikap yang tidak pas yakni para pengurus mengabaikan asprasi kiai dan umat karena merasa merekalah yang memiliki suara," ujar Masdar dalam diskusi terbatas di Hotel Lor In, Solo, Sabtu (27/11/2004), menjelang muktamar ke-31 NU.Dia juga menyoroti kelalaian pengurus memperhatikan warganya yang sedang kesulitan. Banyak pengurus yang hanya menyapa mereka ketika suara warga itu dibutuhkan setiap ada kerja-kerja politik. Karena itu seharusnya ada agenda pertaubatan massal pada muktamar kali ini bahwa telah terjadi kesalahan besar oleh pengurus."Kalau saya menggambarkan, ke arah mana pun kita melempar kerikil pada kerumunan TKW maka kerikil itu akan mengenai kepala warga NU. Demikian juga nelayan-nelayan dan kuli-kuli pasar uang miskin itu, mungkin mereka semua anggota Banser," lanjutnya. Dia berharap NU melakukan self recovery jika tidak ingin tertinggal dalam proses kemajuan zaman. Menurutnya, salah satu kunci utama recovery Indonesia adalah recovery pada NU. Hal itu dikarena warga NU yang sangat besar akan menjadi penyangga utama keberlangsungan kehidupan bangsa."Kalau Indonesia ini terdiri dari sepuluh gerbong, sembilan di antaranya adalah gerbong muslim. Dari sembilan itu enam di antaranya adalah gerbong nahdliyyin. Bagaimana mungkin keretanya bias berjalan maju jika enam gerbong yang di belakang rodanya rusak dan terperosok. Ini fakta sosiologis, bukan analisa sektarian atau ideologis," paparnya lebih lanjut.Untuk mencapai tujuan itu, menurut Masdar, salah satu yang harus diputuskan dalam Muktamar ke-31 nanti adalah meneguhkan secara final makna khittah 1926 sebagai dasar NU menjadi ormas keagamaan dan kemasyarakatan. Silang pendapat para elit NU yang menghangat menjelang muktamar kali inipun, menurutnya adalah tidak lepas dari tarik-menarik masalah tersebut."Masih ada yang ingin menginstrumentalisasikan NU sebagai alat bepoltik praktis bagi para elitnya, sedangkan di pihak lain adalah mereka yang ingin mengembalikan NU sebagai wadah para kiai dan jamaah untuk berkhidmat bagi umat dan bangsanya. Jika NU ingin menjadi organisasi yang kokoh ke depan maka pilihan untuk tidak tergoda kekuasaan politik harus ditempuh," lanjut Masdar. (nrl/)


Berita Terkait