Hasyim: Separo Kepemimpinan Saya untuk Bela Gus Dur
Sabtu, 27 Nov 2004 16:15 WIB
Solo, - Hingga hampir habis periode kepempimpinannya, Hasyim Muzadi mengakui bahwa tugas-tugasnya belum terselesaikan. Dia ada pembelaan untuk persoalan itu, di antaranya adalah karena hampir separo waktu kepengurusannya habis untuk membela Gus Dur yang saat itu menjadi presiden yang sedang digoyang parlemen. Hal tersebut disampaikan Hasyim Muzadi dalam diskusi terbatas di Hotel Lor In, Solo, Sabtu (27/11/2004) siang, menjelang muktamar ke-31 NU. Dipaparkan oleh Hasyim bahwa salah satu tugas utamanya sebagai Ketua Umum PBNU sesuai keputusan Muktamar ke-30 adalah melakukan menginstitusionalisasikan jamaah kultural NU. Menurutnya, tugas itu sangat berat dan hingga menjelang akhir masa khidmat kepengurusannya selama lima tahun terakhir, tugas itu belum selesai dan masih harus dilanjutkan. Dia kemudian juga memaparkan berbagai alasan. Di antaranya selama lima tahun memimpin NU, dua tahun pertama dihabiskan untuk membela Gus Dur yang saat itu menjadi presiden."Dua tahun pertama saya memimpin NU saya habiskan untuk membela Gus Dur yang saat itu sebagaui presiden digoyang oleh Pak Amien Rais Cs. Baru setelah itu, saya bisa berkesempatan untuk melaksanakan berbagai tugas sesuai amanat Muktamar NU ke-30," paparnya panjang lebar.Tidak cuma itu. Lebih lanjut dia juga mengatakan bahwa tidak sekali itu saja dia membela Gus Dur. Disebutkannya bahwa ketika Muktamar ke-29 di Cipasung, saat itu kepemimpinan Gus Dur di PBNU menghadapi tantangan dengan munculnya NU tandingan yag dipimpin Abu Hasan. Saat itu, akunya, dia salah pendukung utama Gus Dur sehingga PBNU pimpinan Gus Dur bisa menang."Kalau PWNU Jatim yang saat itu saya pimpin tidak teriak-teriak keras mungkin NU yang dipimpin Gus Dur sudah hilang. Saat itu NU di bawah Gus Dur digugat di pengadilan, saya, Kiai Sahal Mahfudz dan Kiai Ilyas Ruchyat menjadi saksi pembela Gus Dur yang akhirnya menang. Tapi yang terancam tandingan, sekarang mengancam membuat NU tandingan. Semoga hanya mimpi-mimpi saja," ujarnya."Ada pula kebiasaan lain dari Gus Dur. Saat bersitegang dengan MPR lalu MPR-nya dibubarkan, saat merasa dirugikan KPU lalu KPU-nya juga minta dibubarkan, bisa-bisa nanti kalau merasa tidak setuju dengan hasil muktamar (NU) kali ini maka muktamarnya juga...," kata Hasyim sambil tertawa tanpa meneruskan pernyataannya.
(nrl/)











































