Korban Banjir Rohil-Riau Terserang Diare & ISPA
Sabtu, 27 Nov 2004 14:40 WIB
Pekanbaru - Setelah dua pekan lamanya Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dilanda banjir, masyarakat setempat terserang penyakit. Penyakit yang menyerang masyarakat antara lain, diare, Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan penyakit kulit.Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dr Ekmal Rusdi, mengungkapkan hal itu kepada detikcom, di ruang kerjanya Jl Sudirman Pekanbaru, Sabtu (27/11/2004). Ekmal mengaku belum mendapat angka pasti berapa orang yang terserang penyakit tersebut. Tapi dia memperkirakan sudah puluhan warga setempat yang terkena penyakit diare, ISPA dan kulit."Pasca banjir harus diantisipasi mulai dini. Sebab, setelah air surut biasanya masyarakat akan terserang penyakit. Itu dimungkinkan karena kondisi air yang kotor, serta lingkungan yang menjadi kumuh akibat banjir tadi," kata Ekmal.Karena itu pihak Dinas Provinsi Riau tengah menunggu angka pasti tentang korban yang terserang penyakit tersebut. Laporan yang baru diterimanya baru sebatas surat permohonan bantuan obat-obatan dari Dinas Kesehatan setempat."Mestinya yang dilaporkan Dinas Kesehatan Rohil itu tentang data korban yang terkena penyakit agar kita bisa mengantisipasi sejak dini. Sangat disayangkan yang kita terima baru surat permohonan bantuan obat-obatan, kat Ekmal. Menurut Ekmal, penyebaran penyakit diare, ISPA dan kulit ini diperkirakan akan terus bertambah. Sebab, kondisi banjir di Rohil belum terlihat tanda-tanda akan surut. Apalagi cuaca di Riau terus menunjukan cuaca hujan."Kalau air benar-benar telah surut, bakal banyak lagi korban masyarakat yang akan terserang penyakit," kata Ekmal.Untuk mengantisipasi hal itu, kata Ekmal, pihaknya telah mengirimkan bantuan kaporit serta obat-obatan ke Rohil. Kaporit itu akan ditebarkan di sejumlah sumur-sumur masyarakat yang selama ini tergenang air."Kita sudah memberikan bantuan obat-obatan dan kaporit ke Rohil. Tapi, kita tidak diberi data oleh Dinas Kesehatan setempat, berapa jumlah sumur masyarakat yang tergenang air. Padahal hal itu sangat kita butuhkan, agar bisa memberikan bantuan secara maksimal," kata Ekmal.Tingkat kesulitan Dinas Kesehatan Provinsi Riau untuk mendapatkan data korban masyarakat yang terserang penyakit, hal itu tidak terlepas dari imbas otonomi daerah yaitu daerah kabupaten bertanggung jawab atas daerahnya sendiri."Kita tidak bisa berbuat banyak dalam masalah ini. Karena kita terbentur dengan sistim administrasi otonomi daerah tadi. Kalau kita langsung menangani masalah tersebut, nanti Dinas Kesehatan kabupaten merasa tersinggung. Ini problem yang kami hadapi," keluh Ekmal.
(nrl/)











































