"Sepertinya Golkar belajar dari Demokrat yang sudah memecat kadernya tapi elektabilitasnya tidak naik juga. Mungkin ini jadi alasan Golkar tidak melakukan diskonektivitas politik pada Atut dan kadernya yang terjerat kasus korupsi," kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi di kantornya, Jalan Cikini V, Menteng, Jakpus, Minggu (5/1/2014).
Ia mencontohkan sikap partai Demokrat yang langsung mememcat M Nazaruddin dan Angelina Sondakh dari DPR saat terkait kasus korupsi beberapa lalu. Hal ini ternyata tak berdampak positif pada elektabilitas partai dalam berbagai survei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarmya Golkar punya kepentingan agar tidak terus merosot. Caranya Golkar harus mendiskoneksi dengan kader bermasalah. Ini malah Golkar malah seperti tameng. Seperti Atut. Misalnya nggak menonaktifkan sampai sekarang," ungkapnya.
Sekretaris Fraksi Partai Golkar Ade Komaruddin menambahkan, ajang Musdalub DPD Banten Golkar adalah bentuk perbaikan politik di Banten. Menurut Ade, partai berlambang beringin ini tidak dalam posisi mempertahankan Atut di tubuh Golkar. Namun, partainya masih menunggu keputusan final dari kasus yang menjerat Atut.
"Kita tidak dalam mempertahankan. Kita ada prosedur. Kita menghormati asa praduga tak bersalah. Jika nanti keputusan hukum sudah tidak bisa. Kita simpulkan udah tidak akan terjadi keputusan hukumnya bebas, baru diambil," ungkapnya.
Terkait dengan hasil survei Indikator yang menggambarkan keinginan warga Banten untuk penonaktifan Atut tak bisa dilakukan secara instan. Malahan, Ade menyerang survei yang digawani Burhanuddin Muhtadi ini bahwa survey tersebut hanya buang-buang waktu.
"Saya pandang sebagai orang politik. Ngapain ngadain angket? Buang-buang waktu, buang-buang sosial politik, buang-buang energi. Toh ranah hukum lagi jalan jangan dicampuri biarkan dia. Semuanya harus sabar nggak boleh grasak grusuk," ungkapnya.
(mnb/mad)










































