"Pemerintah harus mulai serius lagi melakukan gerakan deradikalisasi di kalangan anak muda, sekolahan. Mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ini sudah berbahaya sekali, mengingat buku-buku dan website menyebarkan jihad begitu bebas diakses," kata Ketua Taruna Merah Putih Jakarta, Charles Honoris kepada detikcom, Jumβat (3/01/2014).
Charles mengingatkan kembali, 6 enam terduga teroris yang tewas saat penggerebegan di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada malam tahun baru 2014 kemarin sebagian besar adalah anak baru gede (ABG). Apalagi di tempat kejadian ditemukan sekitar 50 buku bacaan yang hampir semua berisi untuk berjihad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Charles pun mengimbau kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) harus segera membuat kurikulum resmi soal deradikalisasi ini. Diakuinya, penanganan masalah terorisme tidak bisa diserahkan dan diselesaikan oleh aparat keamanan, tetapi semua kalangan, tokoh politik, agama, masyarakat juga dunia pendidikan.
Charles pun mengulang pernyataan Kepala BNPT Ansyaad Mbai bahwa buku-buku yang sering ditemukan dari para pelaku terorisme ini merupakan produk luar negeri yang sudah diterjemahkan. "Saya nggak kompeten menyebutkan kelompok mana dan dari negara mana. Tapi ini yang harus dicounter," tegasnya.
Artinya, lanjut Charles, anak-anak muda Indonesia harus diselamatkan dari pemahaman yang keliru dari sebuah pemahaman ajaran agama. "Ini kan harus mulai dari sekolah SD sampai Perguruan Tinggi. Harus mulai dibuat kurikulum tentang pemahaman suatu ajaran agama yang benar, wajib. bukan sebagai bacaan alternatif," imbuhnya.
Seperti diketahui, Selasa (31/12/2013) malam, menjelang pergantian tahun baru, Densus 88 Mabes Polri menggerebek sebuah rumah di Kampung Sawah, Ciputat. Enam orang orang terduga teroris tewas, dan ditemukan 50 buku, yang beberapa di antaranya mengajak berjihad.
(zal/rjo)











































