"Jokowi kan udah lihai sekali mempopulerkan dirinya, sementara Pak Nur Mahmudi kan tidak terlalu pandai mempopulerkan diri. Kalau Jokowi, apa saja yang dilakukan bisa menjadi populer. Itu saja bedanya," tutur anggota Majelis Syuro PKS Refrizal kepada detikcom, Jumat (3/1/2014).
Aroma 'rivalitas' antara Nur Mahmudi dan Jokowi memang sangat terlihat. Yang paling menonjol adalah sikap Nur Mahmudi yang tak langsung menyetujui permohonan Jokowi membangun waduk di Depok. Padahal waduk tersebut adalah bagian dari upaya penanggulangan banjir di Jakarta. Namun pada akhirnya Nur Mahmudi pun membuka peluang kerjasama dengan Jokowi, meski diikuti embel-embel mengingatkan Jokowi tentang aturan yang harus ditaati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira kapasitas kader PKS tak pernah diragukan untuk mencapres. Masalahnya ada pada popularitas, beliau tidak jago untuk mempopulerkan dirinya," nilai Refrizal.
Saat ini, Nur Mahmudi menduduki lima besar capres hasil Pemilu Raya (Pemira) PKS di bawah Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Ahmad Heryawan, dan Tifatul Sembiring. Refrizal menyatakan Majelis Syuro akan mengambil lima nama sekaligus untuk diuji publik.
"Lima-limanya akan segera memasuki tahap uji publik, sebagaimana rencana awal. Nanti teknisnya kita atur. Kelima-limanya akan dinilai publik," pungkas Refrizal.
(dnu/van)











































