"Sudah dijelaskan sama Mabes Polri betul itu. Terduga itu adalah pasal yang dikembang-kembangin, ini ya teroris bukan terduga," ujar Kepala BNPT Ansyad Mbai di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (2/1/2013).
Menurutnya kelompok Dayat Kacamata merupakan pecahan kelompok kecil dari pelaku teroris terdahulu. Bahkan di balik itu masih terdapat jaringan baru.
"Bisa, tapi tidak semuanya murni baru. Teroris sekarang beroperasi dibanyak tempat banyak dengan nama yang berbeda mereka sebenarnya, terangkai pada jaringan besar dengan tujuan dan target yang sama. Hanya namanya saja beda-beda untuk mengelabui," tuturnya.
Mbai mengatakan anggota kelompok teroris bisa tetap bertahan meski anggota lainnya sudah ditangkap polisi. "Dari Filipina datang Umar Patek. Kemudian muncul satu ide kayak reuni lagi latihan di Aceh setelah ketahuan disergap diobrak-abrik, ada tewas, ada juga yang lolos. Yang lolos ini beroperasi lagi seperti di Jawa Tengah Klaten," tuturnya.
Selang beberapa lama kemudian, Ia melihat kelompok NII (Negara Islam Indonesia) yang dipimpun Abu Roban Kodrat kembali muncul. Mereka menamakan kelompoknya sebagai Mujahidin Indonesia Barat.
"Mereka menjadikan Poso sebagai pusat pelatihan untuk membentuk mujahidin Indonesia timur. Mereka pun masih terkait di Poso meskipun orang-orang bukan dari Poso tetapi dari mana-mana," ungkapnya.
Saat ditanya mengenai adanya protes soal penembakan 6 terduga teroris di Ciputat, Mbai mengatakan hal itu merupakah sesuatu yang biasa. "Protes hal biasa, masa mau kita ikutin protes itu. Sudah jelas teroris, cuma kita saja yang suka pake bahasanya begitu pakai-pakai terduga," ungkapnya.
(edo/nal)











































