Duet Jokowi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang baru berjalan setahun lebih dalam mengurus ibu kota dipandang akan terpengaruh dengan situasi perpolitikan di tahun ini.
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro berpendapat gegap gempita tahun politik ini tidak dapat dipungkiri akan bisa mengganggu kinerja Jokowi-Ahok. "Pasti ya, karena dorongan politik sehingga sekecil apapun kan jadi intensif politik," kata Siti kepada detikcom, Rabu (1/1/2014).
Â

Siti mencermati prestasi Jokowi dalam memimpin Jakarta juga akan riskan. Artinya, kalau ada salah sedikit malah akan jadi bumerang dan jadi komoditas politik.
Adapun pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, melihat program-program kerja pemerintah DKI di bawah kepemimpinan Jokowi akan teralihkan pada tahun politik 2014 ini.
"Sebenarnya kalau kondisi di lapangan, mau tidak mau, suka tidak suka, setelah pemilu legislatif ada pencalonan presiden, pasti perhatian langsung teralihkan," kata dia kepada detikcom, Kamis (2/1/2014).
"Kemungkinan berbagi, beliau akan terkonsentrasi (jika jadi capres), tanggung jawab ada di Wagub," Nirwono melanjutkan.
Namun situasi dan kondisi akan berbeda juga kalau wagub diajak satu paket dalam ajang Pilpres. "Siapa yang akan melanjutkan DKI, sementara sekda masih pelaksana tugas. Jadi kan mengganggu kinerja dalam mengurus Jakarta. Dan proyek-proyek besar akan melambat secara teknis," jelas dia.
Nirwono menjelaskan, pembangunan Kota Jakarta, terutama dalam proyek-proyek besar, akan melambat pada rentang Januari hingga Juni mendatang. Dalam waktu enam bulan tersebut, program-program Jakarta yang berjalan hanya yang ringan dan yang bersifat
melanjutkan.
"Mau tidak mau, kan yang ringan yang melanjutkan, dan yang berhubungan dengan masyarakat bawah, karena menyangkut pencitraan, menghindari resisten dari masyarakat," ujarnya.
(brn/brn)











































