Kadispen AL: Sulit Tekan Penyelundupan ke Titik Zero
Jumat, 26 Nov 2004 20:55 WIB
Jakarta - Upaya memberantas penyelundupan di perairan Indonesia tidak semudah membalikan tangan, apalagi sampai menekan sampai menghapuskannya hingga ke titik zero. Faktor kendalannya, bukan hanya luasnya perairan dan kepulauan di Indonesia, juga kurangnya aparat keamanan dan kapal patroli."Kita selama ini sudah bekerja keras. Tapi, toh masih ada penyelundupan, bukannya tidak ada, tapi sulit untuk membuat zero penyelundupan," jelas Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Abdulah Malik Yusuf dalam acara ramah tamah dengan wartawan di Guest House TNI AL, Jl. Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (26/11/2004).Menurut Malik Yusuf, penyelundupan banyak sekali dilakukan di sekitar selat yang berbatasan dengan negara lain, seperti Malaysia, Singapura dan Filipina. Kejadian seperti itu menurutnya selalu ada, memang bila dahulu mungkin ada istilah "barter" barang di kawasan tersebut, apalagi dengan adanya perbedaan harga suatu barang antara satu negara dengan negara diperbatasan dan itu sering menimbulkan praktik penyelundupan. "Sekarang tidak ada istilah itu, sekarang harus resmi. Kalau tidak resmi, lalu apa sitilahnya? Nah, dulu sering terjadi seperti itu," jelas mantan Komandan Lantamal VII TNI AL di Tanjung Pinang tersebut. Faktor lainnya, jelas Malik Yusuf, penyelundupan dan pelanggaran di laut terjadi karena kurangnya aparat keamanan, patroli, luas pulau dan perairan di Indonesia. Hanya saja, sejak tahun 2002 hingga 2004 ini, TNI AL sendiri berhasil menangkap sekitar 3.100-an kapal. Tapi yang masuk proses pengadilan dan divonis sekitar 1.400.Menurutnya, bila semua diproses kepengadilan, tentunya hal itu bisa mengurangi kerugian negara sekitar Rp 13,3 triliun. Asumsinya, kerugian negara tersebut bisa terbayar sedikitnya dengan menyita dan menjual kapal-kapal tangkapan tersebut.Ketika ditanya berapa kapal penyelundup yang ditargetkan akan ditangkap oleh TNI AL? Malik Yusuf menjawab, pihanya tidak memiliki target. "Kita tidak punya target, tapi sebanyak-banyaknya. Kalau laut aman, maka penyelundupan dan pelanggaran di laut berkurang," jawabnya.Sementara mengenai kekuatan TNI AL sendiri, sesuai blue print tahun 2013 setidaknya harus memiliki kekuatan yang ideal sekitar 160 kapal dari berbagai jenis, minimal 138 kapal. "Karena perairan Indonesia begitu luas, butuh kapal memadai. Kita saat ini memiliki 116 kapal. Itu kondisi besar tapi tidak kuat. Kita ingin yang besar tapi kuat," jelasnya.Untuk itu, secara bertahap TNI AL melakukan penambahan kapal-kapal patroli dan perangnya secara bertahap dan juga melakukan perbaikan mesin-mesin pada kapal-kapal yang memiliki usia yang tua. Untuk pembuatan kapal sendiri dilakukan di dalam negeri, tapi juga ada yang dipesan di luar negeri seperti pemesan 4 kapal korvet dari Belanda yang akan selesai tahun 2006. Sedangkan untuk kapal selam yang dilakukan proses overhoul bisa selesai sekitar tahun 2008.
(zal/)











































