Para penjual jagung dadakan bisa Anda temui berjejer di sepanjang Jalan Tambak dan di depan pintu air Manggarai, Jakarta Pusat. Mereka ย adalah para warga bantaran kali Ciliwung yang secara musiman menjual jagung, arang dan peralatan memanggang lainnya.
Seperti halnya pasangan suami istri Syawal (45) dan Ina (40), mereka sudah 10 tahun menjadi penjual jagung musiman. Ia diberi pinjaman sebesar Rp 5 juta oleh adik iparnya sebagai modal untuk berdagang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pukul 15.00 WIB, istri Syawal, Ina masih sibuk menjajakan jagungnya. Kemacetan akibat para penjual jagung dadakan ini pun dimanfaatkannya untuk menarik pembeli. Sambil mengupas kulit jagung, sesekali ia berteriak memanggil para pengendara motor.
"Ayo Mbak, Mas, jagung manis untuk tahun baru," teriak Ina.
Teriakan ini sempat membuat beberapa pemotor berhenti untuk membeli. Saat tawar menawar tak berujung kesepakatan, Ina pun gagal menangguk untung.
Ia mengatakan jika tahun ini pendapatan mereka menurun drastis. Jagung yang biasanya sudah ludes terjual, kali ini masih bertumpuk.
"Biasanya, kalo sudah sore begini pasti sudah habis. Tapi sekarang ini baru berapa biji yang laku," ungkap Ina pada detikcom, Selasa (31/12).
Jagung-jagung ini dibelinya dari Pasar Induk sejak kemarin. Sayangnya, masih ada 1 karung setengah atau sekitar 150 buah jagungnya yang belum terjual.
Seluruh penjual jagung di depan pintu air Manggarai sudah menyeragamkan harga dagangannya. Misalnya saja sebungkus plastik berisi 10 jagung yang sudah dikupas kulitnya akan mereka hargai Rp 35 ribu. Jikapun pembelinya menawar, maka harga terendah yang akan diberikan yakni Rp 25 ribu.
"Harga panggangan, tusuk sate dan arangnya juga disamakan semua," ungkapnya.
Untuk sebungkus berisi stengah kilo arang, akan mereka hargai Rp 5.000. Jika pembeli ingin arang yang lebih banyak, Ina menawarkan arang karungan dengan berat 3,5 kg dengan harga Rp 25 ribu.
Bicara tentang keuntungan, Ina mengatakan jika sekali berjualan di malam tahun baru, ia bisa membawa pulang Rp 300 ribu. Namun, angka itu tak dapat dipastikan bisa ia bawa pulang kembali melihat dagangannya yang tak banyak laku.
Berbeda dengan Ina, pedagang lainnya, Agus (35) mengaku baru pertama kali mencoba peruntungan sebagai pedagang jagung di Jalan Tambak. Ia yang sehari hari bekerja sebagai buruh di Tangerang sebelumnya hanya merayakan moment pergantian tahun di rumah bersama keluarganya.
Mendengar dari beberapa orang tentang keuntungan besar jika berjualan jagung, ia akhirnya memutuskan mencoba berjualan jagung kemarin. Sayang, karena hujan yang terus menerus mengguyur Jakarta, tak ada dagangannya yang laku kemarin.
"Kemarin sampai jam 3 pagi. Nggak ada yang laku. Semoga hari ini ada," kata Agus yang asli dari Purworejo.
Karena masih mencoba, tahun ini ia masih mendagangkan jualan orang. Ia memberi selisih Rp 2.000 atau Rp 3.000 untuk sebagai keuntungannya.
"Misalnya arang 3,5 kg-nya dikasih ke kita harganya Rp 22 ribu, kita jual Rp 25 ribu," ungkap pria yang tinggal di Cengkareng ini.
Rencananya ia akan berjualan sampai pagi hari ini untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Bila ia rasa berjualan jagung menguntungkan, ia akan kembali berjualan tahun depan.
Untuk mendapatkan tempat, para penjual ini tidak membayar sewa sama sekali. Mereka tinggal mencari tempat yang kosong dan belum dipunyai siapapun. Mereka hanya membayar uang kebersihan RP 5.000 pada petugas kebersihan yang akan mengangkut sampah kulit jagung mereka.
Meski menimbulkan kemacetan, sepertinya masyarakat Jakarta memberikan toleransi pada penjual ini karena sifatnya yang musiman. ย Seperti yang dikatakan pengguna jalan bernama Shanti (27).
"Bikin macet sih pasti. Tapi mereka memudahkan juga orang yang mau buat jagung bakar. Daerah ini juga sudah terkenal dengan penjual jagungnya," kata Shanti.
(mnb/gah)











































