Beberapa program tersebut adalah dengan tersalurkannya program Bidikmisi hingga terselenggaranya World Culture Forum di Nusa Dua, Bali November lalu.
"Untuk Bidikmisi sendiri, hingga tahun akademik 2012/2013, program ini telah membantu 88.142 mahasiswa dari keluarga miskin dengan potensi akademik tinggi. Ditargetkan untuk tahun akademik 2013/2014, ada sekitar 150 ribu mahasiswa yang akan menerima program ini," jelas dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 2013, pemerintah mengalokasikan dana Rp 1,64 triliun untuk program Bidikmisi. Jumlah ini meningkat dari angka Rp 1,1 triliun pada tahun lalu.
Untuk menyiapkan generasi 2045, Kemdikbud juga menciptakan kurikulum 2013 pada tahun ini. Kurikulum tersebut menekankan pada pendekatan saintifik, tematik-terpadu. Menurut Nuh, tahun pelajaran 2013-2014 dijadikan awal untuk implementasi secara bertahap di 6.236 sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) pada 295 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia.
Walaupun sempat terjadi kekhawatiran mengenai sistem akademik ini, dari survei yang dilakukan terhadap 59.466 tenaga pengajar dan orangtua siswa, 80 persen memberikan tanggapan yang positif.
"Artinya sistem ini mudah dipahami dan disukai, dan kita harus optimis apapun hasilnya. karena kurikulum ini memang sengaja disiapkan untuk menyiapkan generasi 2045," sambung Nuh.
Pada tahun 2013 juga terjadi penyempurnaan sistem Ujian Nasional (UN). Kelulusan peserta didik ditentukan dari hasil gabungan nilai sekolah dan nilai UN dengan presentase nilai UN 60% : 40%, dengan batas minimal nilai kelulusan >5,50.
"Terobosan lainnya adalah Konvensi UN yang diikuti oleh 300 peserta dari berbagai kalangan. Konvensi ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama mengenai bentuk UN dan mencari mekanisme pelaksanaan UN yang dapat diterima semua kalangan, sesuai dengan kondisi sekolah di berbagai daerah," papar Nuh.
World Culture Forum atau Forum Komunikasi Dunia (FKD) pertama yang diprakarsai Indonesia juga digelar pada 24-27 November 2013 lalu di Nusa Dua, Bali. Forum yang dihadiri 800 peserta dari 65 negara ini bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia.
"Ajang FKD ingin memerankan budaya dari yang belum terhubung menjadi terhubung," ujarnya.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hampir semua program unggulan dapat dilaksanakan. "Diharapkan untuk tahun depan program kita dapat terlaksana lebih baik lagi," pungkasnya.
(rii/ndr)











































