Makan malam di rumah makan Bandung di distrik 7, Haisabik, Kairo, pas di hari natal kemarin memang maknyus. Nasi ayam bakar bandung yang ditemani sambal, segelas teh panas manis plus sebutir jeruk membuat lidah ini menari-nari lalu bersendawa panjang. Cita rasa masakannya benar-benar ala Indonesia: gurih campur pedas. Soal harga, dijamin masih dalam taraf pantas dan murah, 16 pound Mesir, atau setara dengan Rp 27.500.
Bila masih belum puas, jangan khawatir. Silakan menyantap bakso telor atau bakso biasa. Di sana juga disediakan nasi ikan pindang, nasi ikan balado, tomyam atau nasi goreng kampung. Untuk minumannya, ada segala macam, mulai cendol hingga teh manis. Semua benar-benar fresh from the oven. Dengan uang Rp 50 ribu sekali makan, dijamin masih ada kembaliannnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah makan Bandung baru berdiri dua tahun, namun mampu bertahan di tengah gonjang-ganjing politik dan ekonomi negeri piramid tersebut. Bagaimana tidak, pelanggan berasal dari mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Dengan 60-an pelanggan setiap harinya, bisa diraup omzet kisaran Rp 2,3 juta per-hari dengan keuntungan nyaris separuhnya. Sementara, sewa bulanan tempat ini kurang dari Rp 4 juta.
Di Kairo saat ini, rumah makan mahasiswa Indonesia seperti itu jumlahnya ada dua puluhan. Semuanya relatif tegak berdiri dan cukup ramai dikunjungi pelanggan. Berbagai kreasi dilakukan, mulai yang dibuat ala lesehan, hingga yang memasang karaoke. Meskipun sederhana, tapi cukup memanjakan suasana Indonesia.
Menurut Naufan, salah satu mahasiswa S2 di Al-Azhar University, motif dari pendirian rumah makan memang berbeda-beda. Sebagian bermaksud untuk menunjang kehidupannya selama studi, mencari untung, atau bahkan diantaranya untuk mengisi tabungan. "Tidak hanya itu, terdapat pemikiran bagaimana kalau usaha itu bisa dilegalkan karena bisa menjadi semacam diplomasi perut yang dijalankan oleh mahasiswa yang sedang mencari ilmu," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, jumlah WNI yang saat ini masih bertahan di Mesir berjumlah 4.947 orang yang utamanya adalah pelajar dan mahasiswa dan TKI informal. Mahasiswa Indonesia disana umumnya alumnus dari pesantren dan madrasah aliyah dari berbagai tempat di Indonesia dan saat ini kuliah di Univesitas Al-Azhar. Sebanyak 2.500 dari mereka bermukim di Kairo.
Meskipun banyak manfaatnya, bisnis ini ditengarai menjadi salah satu momok bagi sebagian mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Menurut aturan Pemerintah Mesir, mereka yang studi di tahun keempat akan senantiasa diberikan perpanjangan beasiswa seberapapun lamanya jadi mahasiswa. Tidak pelak, hal ini dimanfaatkan oleh banyak mahasiswa yang kemudian menjadi asyik berbisnis. Banyak lupa kewajiban sekolahnya.
Ditengarai, tidak sedikit mahasiswa Indonesia molor-molor kelulusannya karena asyik menjadi pemandu wisata, berbisnis hingga rajin berorganisasi. Pemerintah Indonesia terus mendorong agar mereka dapat menyelesaikan studinya agar bangkunya bisa diisi oleh adik-adiknya dari Indonesia. Tidak hanya itu, KBRI Kairo juga mengadakan pelatihan wirausaha bagi mahasiswa agar ketika kembali ke tanah air bisa membangun bisnis yang yang lebih mantap. Bukan sekedar bikin warung nasi yang sewaktu-waktu mudah digusur.
(rmd/rmd)











































