"Tahun ini Alhamdulillah dengan pengelolaan yang baik kita bisa menghemat sampai Rp 265,4 miliar. Kalau APBD, ini ibaratnya SILPA, Pak," kata Dirjen PHU Anggito Abimanyu saat evaluasi penyelenggaraan Haji 2013, di Rumah Dinas PHU, Jalan Cemara, Jakarta Pusat, Selasa (24/12/2013).
Nilai ini lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mengurangi kuota haji tahun ini sebesar 20 persen. Nominal 2013, lebih banyak jika dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai nilai Rp 68,0 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemondokan Makkah, kita anggarkan awalnya tinggi. Kemudian soal kebijakan yang mengharuskan kendaraan disewa, tapi itu bisa kita atasi di sana," terangnya.
Untuk penyelenggaran haji tahun ini menelan biaya hingga Rp 7,5 triliun. Biaya terbesar ada pada penerbangan yang mencapai Rp 3.2 triliun.
"Rasio biaya akomodasi tahun 2013 meningkat dari 2012 yakni 30 persen sampai 32 persen karena ada kenaikan biaya sewa pemondokan di Makkah," ujarnya.
Meski pengelolaan 2013 dinilai cukup baik, Anggito mengakui masih mengalami beberapa kendala tahun ini. Sebagian besar masalah berasal dari perubahan kebijakan pemerintah Arab Saudi dan kondisi jemaah haji.
"Tahun ini, masalahnya ada pada pemotongan kuota, ketidakpastian situasi di Arab. Perluasan wilayah Masjidil Haram itu yang membuat harga naik. Kebijakan Arab Saudi yang ketat juga," ungkap Anggito.
Beratnya perjalanan haji membuat Anggito berharap jemaah yang akan berangkat nantinya menguasai dengan baik ibadah haji yang akan dijalaninya dan menyiapkan fisik yang baik.
"Ada 3 persoalan harus menguasai ibadah, harus sehat, karena prosesi ibadah itu harus fisik kuat. Harus punya uang, karena bagaimanapun perjalanannya butuh belanja," pungkasnya.
(mnb/gah)











































