"Natal....pulang...pulang...," gumam nenek bernama Oma Since ini.
Oma Since sudah dititipkan di Rumah Singgah St. Antonius Padua sejak 3 tahun yang lalu. Usianya yang sudah menginjak angka 80 tahun membuat pendengaran dan penglihatannya tak prima lagi. Ia juga sudah pikun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu pasien lainnya bernama Ira yang baru tinggal di sini selama 2 minggu. Wanita berusia 48 tahun ini dibawa ke rumah singgah ketika tidak bisa melihat akibat kadar gulanya yang sangat tinggi.
"Tadinya saya tinggal di pinggiran rel senen, kerja di warteg. Tapi lalu saya sakit, gak bisa lihat. Untung ada orang baik bawa saya kesini," kata Ira yang berasal dari Malang ini.
Sedihnya, tiket kereta ke Malang yang sebelumnya sudah ia pesan menjadi hangus karena ia dirawat akibat penyakit diabetes. Mau tak mau, Ira harus merayakan Natal jauh dari suami dan anak-anaknya.
"Yah, tahun ini beda. Tapi tidak apa-apa merayakan di sini juga senang," ujar Ira yang berusaha tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca.
Oma Since dan Ibu Ira adalah 2 dari 6 pasien yang saat ini menghuni Rumah Singgah St. Antonius Padua yang sudah berdiri sejak tahun 2000. Kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki atau jauh dari keluarganya sehingga Natal harus mereka rayakan bersama para penghuni rumah singgah lainnya.
Menemukan rumah singgah ini antara sulit tetapi juga mudah. Sulit karena tidak ada plang nama atau papan penunjuk, namun mudah karena semua warga sekitar mengetahui lokasi rumah singgah yang beralamat di Jl. Tanah Tinggi II no 7B, Johar Baru, Jakarta Pusat ini.
"Rumah singgah ini berawal dari keprihatinan para biarawan Fransiskan terhadap situasi Jakarta yang semakin buruk. Banyak orang kecil dan terpinggirkan yang belum mendapat tempat di kota ini," kata pengurus Rumah Singgah St. Antonius Padua, Frater Dionisius Anggo Man kepada detikcom, Selasa (24/12/2013).
Hampir semua pasien di rumah singgah ini sudah berusia di atas 50 tahun. Ia mengakui bahwa sudah terjadi pergeseran di rumah singgah ini. Dulu, beberapa orang datang hanya sebentar untuk minta obat dan istirahat lalu pergi lagi.
Saat ini kebanyakan para pasien sudah tidak punya tempat pulang lagi. Mereka tinggal di rumah ini selama beberapa bulan, tahunan, bahkan hingga menghembuskan nafas terakhirnya di rumah ini. Sebelumnya, Rumah Singgah St. Antonius Padua pernah merawat pasien yang sakit stroke hingga parkinson.
Sebanyak 26 frater bergantian untuk menjaga para penghuni rumah singgah ini di sela-sela kesibukan kuliah mereka. Semua aktivitas mereka lakukan, mulai dari menyuapi, memandikan, hingga membersihkan para manula setelah buang air.
"Awalnya ada perasaan risih juga karena tidak biasa, tapi kami terpanggil untuk melayani mereka," ucap Frater yang biasa dipanggil Dion ini.
Berbagai masalah pernah mereka hadapi. Mulai dari kesulitan keuangan, penolakan dari masyarakat pada awalnya, hingga pernah ditipu; namun hal tersebut tidak membuat semangat para pengurus luntur.
Biasanya saat Natal atau tahun baru, pengurus akan mengajak para penghuni untuk jalan-jalan. Ancol dan Monas pernah jadi tujuannya. Namun untuk tahun ini, rencana tersebut tampaknya harus ditahan dulu karena kondisi fisik para penghuni tidak memungkinkan.
Oma Since yang tadinya duduk di samping pohon Natal lalu berdiri. Sambil berjalan pelan, ia berusaha menyalami semua penghuni rumah singgah.
"Selamat...Natal....," ucapnya pelan sambil tersenyum memamerkan giginya yang ompong.
(gah/gah)










































