Sesuatu yang simpel tapi kadang terlupakan: melapor ke perwakilan RI manakala datang di suatu negara. Bisa jadi karena enggan, malas, tidak tahu, atau malah menganggap tidak ada gunanya. Akibatnya, ketika keadaan negara setempat tidak kondusif maka KBRI kita tidak punya data yang memadai. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Padahal, di zaman teknologi modern saat ini, melapor bukan harus datang badan, cukup mengirimkan informasi melalui surat, telepon atau mengirim email.
Itulah yang terjadi di tahun 2011 ketika konflik mulai berkecamuk di Suriah. Ditengarai, ada ribuan TKW yang bekerja di lebih 10 kota, namun data yang masuk di KBRI Damaskus kurang lebih hanya delapan ribu. Dengan sebuah perhitungan yang cukup njelimet, akhirnya KBRI mematok warga kita di Suriah berkisar 12.000-an orang yang utamanya adalah TKW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KBRI lalu memasang berbagai jurus untuk dapat mengetahui dimana warganya. Antara lain dengan menghubungi perusahaan pengerah tenaga kerja, agen serta mengirimkan sms berantai. Tidak hanya itu, semua staf diminta untuk terus aktif menelepon dan bila perlu menjemput para TKW.
Tidak sia-sia. Banyak majikan yang menyerahkan pembantunya ke pos-pos yang telah dipersiapkan. Ada juga TKW yang melarikan diri dari majikan menuju KBRI. Tidak jarang juga, staf KBRI menyelamatkan para TKW di lokasi yang disepakati. Pelan tapi pasti, jumlah warga yang berkumpul makin banyak, dari semula hanya puluhan menjadi ratusan. Semua berjalan dibawah desingan peluru.
Setiap seratusan orang yang telah berkumpul maka akan dibawa ke tempat-tempat yang aman untuk dipulangkan ke Indonesia. Manajemen transportasi darat, pesawat udara hingga permasalahan imigrasi dicoba ditangani dengan berbagai cara. Pada awalnya, banyak warga yang dipulangkan melalui Ankara, Turki, atau Amman, Jordania. Tapi, manakala jalan darat ke arah dua kota tersebut semakin rawan maka alternatif lain hanya melalui Beirut, Libanon.
Jujur saja, perjalanan darat di Suriah bisa dibilang ngeri-ngeri sedap. Dimanapun terlihat tentara dan barikade militer. Meskipun begitu, repatriasi harus dilakukan demi keselamatan warga Indonesia. Perjalanan dari Damaskus ke Beirut yang hanya 100 km, pada masa sulit harus ditempuh selama 6-7 jam. Repatriasi tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.
Menurut data KBRI, sampai saat ini telah direpatriasi hampir 10 ribu warga dimana 99 persennya adalah TKW dengan pendidikan rendah. Umumnya mereka kembali ke tanah air dengan sehat wal afiat. Namun tidak jarang, diantara mereka yang belum dibayar gajinya, sakit dan bahkan menjadi jasad tak bernyawa.
(mpr/mpr)











































