"Soal ibunya yang ingin bawa pulang Adit itu kita hargai. Namun menurut penilaian kami sebelum orangtuanya mengambil Adit itu perlu dilakukan penelitian apakah beliau layak dan apakah beliau ada kemungkinan melakukan hal yang sama atau tidak. Ini bukan berarti kita menghalangi, kita hanya ingin yang terbaik," kata Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait di kantornya Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (23/12/2013).
Arist menyatakan terus berkoordinasi dengan lembaga perlindungan anak dan RSUD Kampar untuk memantau kondisi Adit. Menurutnya, saat ini kondisi Adit mulai membaik, namun kondisi psikologisnya masih mengalami trauma berat sehingga membutuhkan suasana mendukung untuk memperbaiki kesehatan dan kondisi psikologinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arist mendorong kepolisian terus melakukan penyidikan dan bisa menindak pelaku kekerasan terhadap Adit. "Kami mendukung polisi agar melakukan tindakan, karena tidak boleh ada perbedaan dalam kasus kekerasan pada anak meski itu dilakukan orangtua kandung atau orangtua tiri itu harus diporoses hukum," katanya.
Ibu kandung Adit, Devi, sudah bertemu dengan Adit yang jadi korban kekerasan ibu tirinya. Sayangnya, bocah polos itu cuek dan menolak disuapi. Dia tidak begitu respek atas kehadiran sang ibu. Adit selalu posisi menjauh.
Ketika makan siang, sebenarnya sang ibu ingin menyuapi buah hatinya. Namun Adit lebih memilih bersama Jali, relawan yang menjaganya di rumah sakit. Adit meminta Jali mendampinginya makan. Relawan ini pun seperti biasa menyuapi Adit di atas tempat tidurnya.
Devi mencoba mendampingi di atas tempat tidur Adit. Tapi bocah itu menolak dan meminta ibunya tidak naik ke tempat tidurnya. Sang ibu duduk di bawah menatap anaknya yang makan lahap didampingi relawan.
(nal/trw)










































