Muktamar NU ke-31 Ajang Pertarungan Dua Gajah
Kamis, 25 Nov 2004 17:22 WIB
Yogyakarta - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali mendatang bakal menjadi arena pertarungan dua gajah besar yang saling memperebutkan kekuasaan dan pengaruh. Pertarungan dua gajah itu terjadi akibat tidak adanya lagi ruang demokrasi di NU."Semestinya pertarungan semacam itu tidak akan terjadi tubuh NU, bila semua pihak diberi kesempatan untuk maju dengan catatan saling mengedepankan asas kejujuran dan menjunjung tinggi demokrasi dan tidak saling mematikan seperti sekarang," kata Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Umum GP Ansor Zuhdi Muhdlar kepada wartawan, di Yogyakarta, Kamis (25/11/2004).Saat didesak siapa dua gajah yang tengah bertarung dan menyeret banyak pihak itu, Zuhdi enggan mengatakan secara terbuka. "Ya beliau-beliau itu. Anda pasti sudah tahu sendiri," kilah ZuhdiZuhdi sendiri mengaku dalam pertarungan itu, GP Ansor akan menjaga jarak dari keduanya dan tidak terlibat dalam pertarungan. Pada muktamar NU mendatang itu ada semangat untuk saling mematikan sehingga ruang demokrasi sudah tidak ada lagi."Saat ini adalah pertarungan yang tidak sehat antara dua gajah. Ansor tidak akan ikut-ikutan dalam masalah ini dan konyol bila kami ikut-ikutan terlibat," katanya.Menurut dia, arena muktamar semestinya bukan hanya arena perebutan ketua umum PBNU saj, tapi juga menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi NU. Muktamar tidak cukup hanya pemilihan ketua umum PBNU saja. Muktamar NU seharusnya menjadi sarana untuk membangun NU agar betul-betul menjadi organisasi yang mandiri sesuai dengan tujuan awal didirikannya.Peranan NU ditingkat nasional dan internasionl juga harus dikembalikan dan tokoh-tokoh yang terlibat politik jangan menyeret tokoh NU lainnya dan pesantren di daerah-daerah. Selain itu lanjut dia, ketua NU harus orang yang mempunyai resistensi paling kecil. Sebab jika dipimpin oleh tokoh yang resistennya besar, justru akan menimbulkan persoalan di kemudian hari."NU semestinya betul-betul kembali ke khittah sehingga harus dipimpin oleh orang yang benar-benar tepat, yang punya visi sosial jelas," katanya.
(asy/)











































