"Masih banyak yang double-double. Ada satu orang dua nama, jadi banyak yang nggak bisa ambil. Makanya kita lock. Bukan salah di bank, salah di sekolah yang kirim data kayak salah tulis nama," ucap Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Jumat (20/12/2013).
Tak hanya itu, evaluasi KJP lainnya adalah temuan soal siswa yang terputus menerima KJP hanya karena pindah sekolah dari negeri ke swasta. "Kita temukan di lapangan ada anak yang di SD negeri dapat KJP, pas masuk SMP negeri tesnya kurang. Dia nggak dapat KJP, dia paksa masuk swasta. Nah KJP putus," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang bagi kita yang penting tepat sasaran saja, jangan sampai anak tidak mampu tidak dapat (KJP-red)," tegas mantan Bupati Belitong Timur itu.
KJP mulai dibagikan Pemprov DKI pada 1 Desember 2012. Kartu tersebut berbentuk serupa ATM berisi uang yang berbeda-beda. Untuk siswa/i SMA atau SMK diberikan Rp 240.000, SMP sebesar Rp 210.000 dan SD Rp 180.000.
(/nrl)











































