Bermimpi Si Koko Pong Jadi Dokter

Menyisir Perlindungan TKI (4)

Bermimpi Si Koko Pong Jadi Dokter

- detikNews
Jumat, 20 Des 2013 19:16 WIB
Bermimpi Si Koko Pong Jadi Dokter
Amman - Namanya wanita setengah baya itu Sutiyem. Kulitnya cukup putih dan bermuka tirus. Masih nampak sedikit kecantikan di masa mudanya. Asalnya dari kota kecil di Jawa Timur. Tepatnya, Bondowoso. Setelah lebih empat tahun berkelana negeri Syam, Jordania, kini nasibnya menggantung. Masuk di penampungan KBRI Amman akibat ulahnya, kawin tidak resmi dengan lelaki warga negara asing.

Wanita yang selalu menggendong anak ini berkeluh kesah. Sudah dua minggu di penampungan bersama anaknya yang berumur setahun. Sang bapak jabang bayi telah pulang ke Thailand dan kini ia menanggung derita. Masa depannya sekarang sedang diurus oleh KBRI Amman. "Saya sudah pengin pulang Pak. Anak ini, si Pong biar ketemu nenek kakeknya," ujar Sutiyem dengan wajah syahdu.

Wanita berparas lumayan ini datang ke Jordania empat tahun lalu setelah ditinggal mati suaminya. Ia meninggalkan seorang anak bersama neneknya di kampung halaman. Untuk menyambung hidup keluarganya, terpaksa ia berkelana menjadi TKW di mancanegara. Ia ingin sukses seperti teman-temannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai di Amman ia tinggal dengan seorang majikan. Belum dua bulan bekerja ia sudah kabur ke kantor pengerah tenaga kerja yang membawanya. Sutiyem mengaku dikejar-kejar majikannya yang ingin mencicipi kemolekan tubuhnya. Ia hanya sempat dibayar sebulan dengan nilai 100 dinar atau kisaran 1,6 juta rupiah. Sedangkan bulan kedua diikhlaskan saja. Yang penting slamet.

Lalu, ia dipekerjakan kepada majian nomor dua. Hampir sama dengan di tempat pertama, ia kabur di bulan keempat. Bukan karena akan diperkosa, namun pembayaran gajinya sangat lelet. Kadang sudah dibayar lalu dipinjam lagi. Bukan hanya itu, yang menyakitkan, ia disuruh tidur di teras yang kadang sangat dingin.

Sutiyem kemudian kenal dengan kelompok TKW Indonesia yang kabur dari majikannya. Dari sana ia lalu bekerja part time dengan seorang penduduk setempat dan mendapatkan gaji 300 dinar. Tapi lagi-lagi gajinya seret sehingga pindah lagi kerja di tempat konveksi dengan gaji yang lebih kecil, 200 dinar.

"Semua uang saya saat itu saya kirim ke Indonesia. Untuk keperluan keluarga dan juga untuk menghidupi anak saya di sana," ujarnya.

Di tengah-tengah kesulitan itulah ia kemudian kenal dengan seseorang lelaki dari Thailand yang langsung memikat hatinya. Tak lama kemudian keduanya memadu janji sehidup semati. Meski berbeda agama, ia bersedia dinikahkan secara diam-diam alias tidak resmi. Keduanya kemudian asyik masuk dan hidup berdua. Akibatnya bisa diduga, lahirlah seorang jabang bayi lelaki dengan muka lucu yang kemudian diberi nama Koko Pong.

Selang setahunan, perusahaan kerajinan emas tempat suami Sutiyem kerja tiba-tiba kolaps. Ayah Pong untuk sementara balik ke Bangkok, dan berjanji akan kembali manakala perusahaan menggeliat kembali. Sayang, sudah sekian lama ditunggu dan ternyata perusahaan benar-benar bangkrut. Ayah Pong tidak kembali ke Amman. Duh.

Sutiyem akhirnya lempar handuk, menyerah. Sejak dua minggu lalu ia lari ke KBRI Amman untuk minta bantuan pulang. Masalah yang menderanya cukup pelik. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan negeri Syam tersebut sebelum menyelesaikan urusan hukum yang membelitnya. Perkawinan tidak resmi disana dianggap sebuah pelanggaran cukup berat dan diancam hukuman kurungan. Ia juga harus kawin resmi sebelum diizinkan pulang ke Indonesia. Waduh.

Kini, KBRI Amman tengah berusaha berdiplomasi agar Sutiyem diizinkan pulang tanpa menerima hukuman. Usaha yang disebut dengan permohonan pengampunan itu di masa lalu agak mudah dikabulkan. Di hari dingin saat ini, Sutiyem tinggal menunggu kebaikan Pemerintah Jordan. Tiap hari berdoa sambil menggendong buah hatinya.

"Nanti kalau saya bisa pulang, bapaknya Pong sudah berjanji akan menyusul ke Bondowoso. Mungkin kita akan hidup di Thailand. Saya pengin, nantinya si Pong bisa belajar di Bangkok agar menjadi dokter. Doakan ya pak," katanya dengan muka penuh harap.

(rmd/rmd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads