Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, Erwin Suryana, mengatakan sejak Bupati Rahmat Yasin dilantik, upaya penertiban prostitusi di Parung gencar dilakukan. Namun, memang memerlukan proses waktu.
Persoalan utama, menurut dia, selama ini para pelacur yang sering dirazia kembali lagi ke Parung untuk mangkal. Padahal, saat di panti rehabilitasi sudah diberikan keterampilan dan bimbingan agama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erwin menegaskan seharusnya masyarakat bisa menerima dan tidak mendiskriminasikan pelacur yang ingin kembali ke jalan yang benar. Menurutnya, selama ini wanita tunasusila mendapat diskriminasi dan tidak diterima sehingga dikucilkan.
Hal inilah, ujar dia, yang harus diluruskan dalam masyarakat. "Persoalannya bukan cuma di Pemda. Ini tidak sesederhana itu persoalannya. Masyarakat asal PSK juga harus mengerti," kata Erwin.
Dia menambahkan, program nobat akan terus dilakukan. Sebulan lalu, razia terhadap pelacur kembali dilakukan pihak Satpol PP. Ia menepis kalau program ini dianggap pasif karena hanya dilakukan saat menjelang bulan puasa.
Menurutnya Satpol PP Kabupaten Bogor sering melakukan razia dalam waktu tertentu. "Kami sering itu. Kalau di pinggir jalan gampang digaruk. Tapi, masalahnya itu yang di hotel-hotel susah tertibkan."
Erwin juga mengeluhkan soal terbatasnya jumlah aparat Satpol PP. Kondisi ini berpengaruh dalam pengawasan prostitusi di Parung dan Kemang. Tapi, ia buru-buru mengatakan kalau pihaknya sudah menyediakan armada mobil patroli tambahan bagi petugas Satpol untuk melakukan pengawasan.
"Jumlah Satpol kami terbatas dan gak bisa standby terus di sana. Tapi, menurut kami jumlah PSK-nya sudah menurun karena yang itu-itu aja. Yang sudah sering kena razia. Kalau data jumlahnya kami belum mengecek lagi,"
Direktur Institut Inovasi Sosial Indonesia, Arifin Purwakananta, menilai program nobat belum ada hasilnya karena karena tidak konsisten dan tidak diimbangi dengan pendekatan ke masyarakat.
"Nobat ini biasa hanya dilakukan di beberapa waktu tertentu seperti menjelang bulan Ramadan," kata dia. Sementara, dia meneruskan, masyarakat sekitar seperti pengelola losmen dan hotel melati memberi dukungan agar kegiatan warung remang-remang tetap eksis.
Belum lagi masyarakat yang berada di areal warem seperti simbiosis mutualisme dengan warem. โMereka dapat duit, untung karena kontrakan laku, warung makanan laku. Selama untung, ya sudah dibiarkan tuh wanita-wanita nakal itu."
(brn/brn)











































