Ukraina Terancam Perang Sipil
Kamis, 25 Nov 2004 06:11 WIB
Jakarta - Komisi pemilihan umum Ukraina menyatakan Perdana Menteri Viktor Yanukovych sebagai pemenang resmi dalam pemilu presiden yang dipersengketakan. Namun seteru Yanukovych yakni Viktor Yushchenko mengancam akan terjadinya perang sipil jika hasil pemilu dipaksakan.Sebagai protes, puluhan ribu pendukung oposisi yang menyatakan pemilu dicurangi, mengepung gedung komisi di hari ketiga. Sebelumnya, Mr Yanukovych menyatakan tidak menginginkan "kemenangan palsu". Pemimpin oposisi Viktor Yushchenko menyatakan terjadi kecurangan besar-besaran dalam pemilihan umum dan menyatakan diri sebagai pemenang yang sah. "Saya berbicara sebagai presiden Ukraina," ucapnya di Kiev sebelum pengumuman resmi dikeluarkan. Sejumlah pendukung pro pemerintah juga turun ke jalan-jalan dan kedua kubu saling ejek. Amerika Serikat dan Komisi Eropa sebelumnya mendesak Ukraina untuk tidak mengumumkan hasil pemilu sebelum mengkaji ulang pemilu penuh sengketa itu. Komisi pemilu telah mengisyaratkan bahwa Yanukovych keluar sebagai pemenang dalam putaran kedua pemilihan hari Minggu, namun hasil exit poll memperlihatkan Yushchenko memimpin dalam perolehan suara.Yanukovych belum menyatakan kemenangan dan tidak mengeluarkan banyak pernyataan sejak pemilu berlangsung. Pada hari Rabu dia membuka suara untuk mengatakan bahwa hasil final ini harus "legal" untuk memastikan tidak terjadi kekerasan. "Saya tidak akan menerima hasil pemilu presiden hingga dibuktikan kepada saya dan juga rakyat Ukraina bahwa hasilnya legal dan bisa dipercaya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan Undang-Undang Dasar," ujarnya dalam pernyataan tertulis seperti yang dikutip BBC."Saya tidak memerlukan kemenangan palsu, yang bisa berakibat pada kekerasan dan jatuhnya korban. Tidak satupun jabatan kekuasaan yang lebih berharga dari nyawa satu orang."Oposisi mengatakan berhasil mencatat ribuan kecurangan pemilu di tempat pemberian suara, antara lain hampir 100 kehadiran pemilih di daerah pemilihan yang pro pemerintah. Para pengamat pemilu barat melaporkan pelanggaran besar-besaran dan sejumlah pemimpin dunia telah menyatakan keprihatinan. "Kami mempertimbangkan tempat dalam keluarga Eropa untuk Ukraina yang demokratis," ujar ketua baru Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso. "Kami menyesalkan pihak berwenang Ukraina tidak mempergunakan kesempatan ini untuk memperlihatkan komitmen mereka pada demokrasi."Sebelumnya, Yushchenko mengatakan kepada puluhan ribu pendukungnya di Lapangan Kemerdekaan Kiev, bahwa dia siap untuk mengulang pemilihan umum jika diselenggarakan oleh para petugas yang "jujur". Dia menyatakan oposisi akan menuntut pembuatan hukum yang melarang penggunaan kertas suara yang dikirim melalui pos yang menurut oposisi digunakan oleh para pendukung Yanukovych memberi suara berkali-kali.Karena tuduhan kecurangan ini, kubu oposisi sebenarnya tidak akan menyetujui pemilu ulang jika mempergunakan metode yang sama. Yanukovych mengatakan kepada kabinetnya bahwa dia tidak ingin terjadi peristiwa yang luar biasa di negaranya.
(mar/)











































