Riswanda: Bukan Masanya Lagi Golkar Dipimpin Tokoh Tua
Kamis, 25 Nov 2004 00:14 WIB
Yogyakarta -
Bukan masanya lagi Partai Golkar dipimpin oleh tokoh-tokoh tua. Namun sudah saatnya Partai Golkar melakukan regenerasi dan tuntutan publik agar Golkar tetap dalam paradigma baru dalam perpolitikannya.Hal itu dikatakan oleh pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Riswanda Imawan kepada wartawan di Hotel Garuda Jl Malioboro Yogyakarta, Rabu (24/11/2004)."Salah satu cacat terbesar Golkar di tahun 2004 adalah kasus Akbar Tandjung. Nah untuk mempertahankannya, Golkar tidak boleh lagi bertahan dengan tokoh-tokoh tua," katanya.Riswanda mengatakan saat ini Golkar harus melakukan regenerasi. Dengan demikian orang seperti Akbar Tandjung seharusnya sudah selesai masanya. Apa lagi dengan Jusuf Kalla yang juga punya beberapa catatan. Kalau sampai menunjuk Jusuf Kalla menjadi ketua umum, itu seakan-akan bertentangan dengan semangat reformasi politik.Menurut dia, yang dibutuhkan golkar untuk 2009 adalah pemimpin-pemimpin muda, yang visioner, yang betul-betul 24 jam mau bekerja untuk Partai Golkar. "Kalau sampai Jusuf Kalla juga jadi ketua umum Golkar, itu betul-betul melanggar semangat zaman. Kalau sampai begitu, itu pertaruhan yang sangat mahal untuk tahun 2009," kata guru besar ilmu politik UGM itu.Dalam pandangan Riswanda, Akbar Tandjung tampak berambisi kembali memimpin Golkar lagi. Sebab Akbar punya keinginan untuk tetap maju menjadi capres tahun 2009 nanti.Oleh karena itu saat ini di tubuh Golkar diperlukan orang yang mampu mengerem keinginan Akbar. Hanya saja, dukungan terhadap dia masih sangat kuat. Hal itu sebagai konsekuensi dari Golkar selama ini bersifat patronase dengan dukungan ekonomi yang sangat kuat pula.Riswanda juga mengingatkan bahwa dalam munas Golkar mendatang nuansa "gizi" akan sangat kuat seperti saat konvensi Partai Golkar lalu. "Penuh dengan isi gizi itu harus diperhatikan. Tapi kalau golkar tidak mau mengubah ini mulai sekarang, Golkar bisa bubar tahun 2009," katanya.Mengenai suara DPD tingkat II tidak diperhitungkan atau tidak punya hak suara itu, Riswanda mengatakan keheranannya kenapa suara DPD tingkat II tidak diperbolehkan atau harus dengan persetujuan ketua umum. "Saya kira sudahlah Akbar nikmati masa pensiun saja. Kurang apa lagi sih yang muda-muda masih banyak. Untuk calon presiden 2009 itu nanti, pasti juga akan menuntut generasi yang tidak terlalu jauh dari geneasi saat ini," demikian Riswanda.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































