Wilayah di sekitar sungai di Bojonegoro, Tuban, Mojokerto dan Gresik Jawa Timur sejak Sabtu (14/12) hingga Minggu (15/12) masih terendam banjir. Banjir di Bojonegoro dan Tuban disebabkan kombinasi antara hujan lokal dan kiriman dari hulu kiriman hulu Bengawan Solo yaitu Wonogiri, Solo, Sragen, Ngawi, Ponorogo dan Madiun.
"Sedangkan banjir di Mojokerto dan Gresik akibat meluapnya Kali Lamong di Jawa Timur," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (15/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di Kecamatan Bojonegoro merendam 3 desa meliputi 585 KK dan 28 ha sawah. Tinggi muka air Bengawan Solo di titik pantau Karangnongko (barat laut Bojonegoro) pada posisi 29,30 m atau Siaga 1 pada siang tadi.
"BNPB dan BPBD Bojonegoro telah membangun shelter untuk pengungsi banjir di Bojonegoro sehingga dapat digunakan menampung sebagian pengungsi," jelasnya.
Di Tuban, banjir merendam 13 desa di 4 kecamatan yaitu Kecamatan Semanding, Suko, Parengan, dan Singgahan. Banjir menyebabkan 2.249 rumah terendam. Di desa Sambung Rejo Kecamatan Semanding sekitar 800 rumah terendam. Sedangkan di Mojokerto dan Gresik banjir di 6 kecamatan dengan 920 rumah terendam.
"Satu orang hanyut di Kecamatan Benjeng. Hingga saat ini belum ditemukan," imbuhnya.
BPBD Kab Bojonegoro, Tuban, Mojokerto dan Gresik bersama TNI, Polri, SKPD dan relawan telah melakukan penanganan darurat. Sebagian masyarakat telah dievakuasi. Dapur umum telah didirikan dan makan siap saji dibagikan. Pendataan masih dilakukan.
"Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dengan ancaman banjir dan longsor. Puncak hujan sebagian besar wilayah Indonesia pada Januari-Februari," imbau Sutopo.
(ega/)











































