Gagal Cetak Soal Ujian CPNS, Pimpinan PT PURI Mundur
Rabu, 24 Nov 2004 21:19 WIB
Surabaya -
Sebagai konsekuensinya terhadap rusaknya reputasi pemerintah provinsi Jawa Timur, Pimpinan percetakan PT PURI mengajukan pengunduran diri, berkaitan dengan tidak selesainya pembuatan materi lembar ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS). Akibat tidak tercetaknya materi lembar ujian menyebabkan ditundanya ujian CPNS se-Jawa Timur menjadi tanggal 1 Desember 2004. "Pimpinan percetakan PURI menyatakan mengundurkan diri, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan karena tidak selesainya materi ujian cpns, yang mengakibatkan hari ini ditunda semua se-Jawa Timur," kata Kepala Dinas Infokom Provinsi Jawa Timur, Suprawoto kepada detikcom di Surabaya, Rabu (24/11/2004).Prawoto mengatakan, pimpinan yang menandatangani pengunduran diri itu adalah GM Percetakan PURI, Sustri Handayani, Wakil GM Abdul Rahman dan Manager Produksi Suprayitno.Pernyataan permohonan pengunduran diri tersebut disampaikan melalui surat yang diterima Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan Direktur PT Panca Wira Usaha (Perusahaan Daerah Jatim) yang dipimpin Dahlan Iskan, yang juga CEO Jawa Pos. Sebagaimana diketahui bahwa PT PURI adalah anak perusahaan PT Panca Wira Usaha. Menurut Prawoto, surat itu antara lain menyatakan bahwa pimpinan percetakan PURI merasa bersalah karena telah berani menerima order/pesanan (materi ujian cpns) yang tidak sesuai dengan kemampuan.Dalam surat itu pimpinan PT PURI juga menjelaskan kronologis secara detail proses pengerjaan lembar ujian. Menurut Prawoto pertama kali percetakan menerima surat perintah kerja dari Pemprov Jawa Timur tanggal 9 November 2004, untuk mengerjakan naskah ujian CPNS dengan baik dan aman, dengan masa waktu pengerjaan hingga tanggal 22 November 2004. Permasalahannya, pada hari libur lebaran, yang rencananya, sebanyak 24 orang tenaga borongan diminta untuk masuk pada tanggal 16 November 2004, ternyata yang masuk pada hari itu hanya 10 orang, dan semuanya baru hadir pada tanggal 19 November. Selain itu, dikatakan bahwa PT PURI tidak memperhitungkan 520 item (jenis soal) naskah yang harus dicetak. Dengan kalkulasi sebanyak 8 juta lembar ukuran kuarto."Karena kendala itu meski mereka telah memaksimalkan 4 mesin cetaknya, 3 diantaranya berkapasitas 48 ribu lembar per jam, namun tetap tidak bisa memenuhi target sampai akhir pelaksanaannya pada tanggal 22 November 2004" tutur Prawoto. Prawoto juga menambahkan sebenarnya pada tanggal 20 November mereka telah menyadari bahwa pekerjaannya tidak akan selesai. Akhirnya mencari solusi dengan menggunakan foto copy khususnya item-item tertentu yang tidak dicetak dalam jumlah banyak.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































