Sindir Balik Wiranto, PKB: Popularitas Rhoma Lebih Tinggi!

Sindir Balik Wiranto, PKB: Popularitas Rhoma Lebih Tinggi!

M Iqbal - detikNews
Jumat, 13 Des 2013 17:05 WIB
Sindir Balik Wiranto, PKB: Popularitas Rhoma Lebih Tinggi!
Jakarta - Capres Partai Hanura Wiranto menyindir kandidat capres PKB Rhoma Irama yang dianggap tak kompeten menjadi capres. Ketua DPP PKB Marwan Jafar menilai kompetensi itu relatif. Justru dari popularitas Rhoma lebih tinggi dari Wiranto.

"Soal kompeten dan tidak itu relatif, dari perspektif mana melihat kompeten dan tidaknya. Berdasarkan obrolan teman-teman di PKB, Rhoma dianggap mempunyai massa yang riil yang bisa dongkrak suara partai. Itu salahsatu pertimbangan," kata ketua DPP PKB Marwan Ja'far kepada detikcom, Jumat (13/12/2013).

Bahkan menurut Marwan, soal popularitas Rhoma yang dikenal sebagai raja dangdut menduduki posisi lebih baik daripada Wiranto sebagai ketua umum Partai Hanura.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tanpa harus mengurangi rasa hormat kepada Pak Wiranto, mungkin popularitas Rhoma lebih tinggi dibanding Wiranto. Itu hasil dari berbagai survei," papar Marwan sedikit berguyon menyindir balik Wiranto.

"Jadi soal kompetensi, belum tentu profesor atau doktor bisa memimpin. Pemimpin itu alamiah. Jangan salah Rhoma itu punya pengalaman politik lama," tegas ketua Fraksi PKB itu.

Sebelumnya, Wiranto dalam debat capres di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyindir kandidat capres PKB, Rhoma Irama. Ia menyinggung kompetensi raja dangdut menjadi presiden.

"Sekarang ini penyanyi dangdut dijadiin calon, ada lagi pelawak, nanti lama-lama pemain akrobat juga dicalonkan. Makanya yang korupsi jalan terus," ujar Wiranto di Auditorium LIPI, Jl. Gatot Subroto Kavling 10, Jakarta Pusat, Jumat (13/12/2013).

Menurutnya penunjukan calon pemimpin yang tidak kompeten dianggap sebagai sumber permasalahan bangsa. Pola rekrutmen seperti itu telah marak dalam partai politik dewasa ini.

"Ada lagi lulusan SMA mau jadi capres. Padahal jadi guru saja minimal S1, masak presiden SMA? Bagaimana IPTEK mau diperhatikan?" imbuh Wiranto.

(bal/van)



Berita Terkait